triggernetmedia.com – Direktur RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, dr. Eva Nurfarihah, Sp.THT-KL, M.Kes, mengungkapkan rasa syukur atas penghargaan yang diraih rumah sakit dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2025. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas inovasi pelayanan kesehatan yang dikembangkan RSUD SSMA untuk meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien.
“Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena inovasi kami pada tahun 2025 memperoleh penghargaan dalam Innovative Government Award. Tentu kami sangat berbahagia karena inovasi yang telah dikembangkan mendapat pengakuan dan penghargaan dari Pemerintah Kota Pontianak,” ujar dr. Eva, Selasa (21/7/2026).
Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi MAKELAR (Metode Asuhan Keperawatan) yang dikembangkan oleh bidang keperawatan RSUD SSMA. Inovasi ini dirancang untuk memastikan kesinambungan pelayanan keperawatan sehingga informasi mengenai kondisi pasien tetap terjaga dari awal hingga akhir masa perawatan.
Menurut dr. Eva, sebelum inovasi tersebut diterapkan, setiap pasien memang telah memiliki dokter penanggung jawab. Namun, pada pelayanan keperawatan, pergantian jadwal kerja atau shift berpotensi menimbulkan terputusnya alur informasi mengenai perkembangan pasien.
“Pergantian shift merupakan bagian dari sistem pelayanan keperawatan. Namun, dalam proses tersebut selalu ada potensi informasi penting mengenai kondisi pasien tidak tersampaikan secara utuh. Hal ini tentu dapat memengaruhi kesinambungan pelayanan apabila tidak dikelola dengan baik,” jelasnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, RSUD SSMA menghadirkan sistem Perawat Penanggung Jawab Asuhan Pasien (PPJA) melalui inovasi MAKELAR. Dalam sistem ini, setiap pasien didampingi oleh satu perawat penanggung jawab sejak pertama kali dirawat hingga dinyatakan pulang.
Meski perawat penanggung jawab sedang tidak bertugas, setiap pergantian shift tetap disertai pelaporan secara berjenjang dari perawat pelaksana kepada PPJA. Dengan mekanisme tersebut, seluruh informasi terkait kondisi pasien dapat terdokumentasi dan tersampaikan secara utuh sehingga mutu pelayanan serta keselamatan pasien tetap terjaga.
“Meskipun perawat tersebut sedang tidak bertugas, setiap pergantian shift akan dilakukan pelaporan secara berkesinambungan oleh perawat pelaksana kepada PPJA. Dengan demikian, seluruh informasi terkait kondisi pasien tetap terjaga, tidak ada informasi yang terlewat, sehingga mutu pelayanan dan keselamatan pasien dapat dipertahankan secara optimal,” katanya.
Dr. Eva menegaskan budaya inovasi telah menjadi bagian dari pengembangan layanan di RSUD SSMA. Manajemen rumah sakit terus membuka ruang bagi seluruh pegawai untuk menyampaikan ide dan menciptakan terobosan yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Ia menyebut banyak inovasi lahir dari proses evaluasi terhadap berbagai keluhan maupun masukan, baik dari tenaga kesehatan, manajemen, maupun masyarakat sebagai pengguna layanan.
“Setiap keluhan atau permasalahan kami jadikan sebagai bahan evaluasi. Dari situ kami mencari solusi melalui inovasi agar masalah yang sama tidak kembali terjadi. MAKELAR merupakan salah satu contoh inovasi yang lahir dari upaya mengatasi potensi terputusnya komunikasi dalam pelayanan pasien,” ungkapnya.
Ia berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh insan RSUD SSMA untuk terus menghadirkan inovasi yang berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
“Saya mengajak seluruh insan Alkadrie untuk tidak takut mengajukan inovasi. Sekecil apa pun inovasi yang dihasilkan akan memberikan manfaat dalam meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit. Kami juga berharap Pemerintah Kota Pontianak terus melanjutkan program penghargaan seperti ini karena mampu menumbuhkan semangat bagi kami untuk terus berinovasi,” tutupnya.










