triggernetmedia.com, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan titik terendah nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2024, menjelang akhir masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Gejolak global disebut sebagai penyebab utama tekanan terhadap pasar keuangan domestik.
Dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Selasa (1/7/2025), Sri Mulyani menyebut rupiah sempat menunjukkan performa positif pada awal 2024, dengan apresiasi hingga rata-rata Rp16.000 per dolar AS. Namun, kondisi itu tak bertahan lama.
“Rupiah kemudian mengalami depresiasi hingga Rp16.486 per dolar AS, yang menjadi titik terlemah sepanjang 2024,” ujarnya.
IHSG Juga Tertekan
Tak hanya rupiah, IHSG juga mengalami fluktuasi tajam. Indeks sempat menyentuh level 7.300 pada awal tahun, namun kemudian merosot hingga ke 6.726 pada Juni 2024. Penurunan ini mencerminkan tekanan yang signifikan di pasar modal, seiring ketidakpastian global.
Meski begitu, Sri Mulyani menyatakan bahwa perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dan pemulihan yang progresif di tengah tekanan tersebut.
Stabilitas Politik Perkuat Optimisme Ekonomi
Sri Mulyani menyampaikan bahwa keberhasilan pelaksanaan pemilihan umum dalam satu putaran turut memberikan kepastian politik yang dibutuhkan pasar. Transisi pemerintahan dari Presiden Jokowi ke Presiden terpilih Prabowo Subianto dinilai berjalan lancar, menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional.
“Situasi yang membaik ini tidak terlepas dari peran APBN sebagai shock absorber, melindungi perekonomian dan masyarakat dari tekanan eksternal,” tegasnya.
Rupiah Mulai Pulih
Pada perdagangan Selasa (1/7/2025), rupiah ditutup menguat di posisi Rp16.185 per dolar AS, menguat 0,28 persen dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,18 persen ke level 96,69.
Sementara itu, pelemahan dolar AS dipicu oleh ketidakpastian politik di Amerika Serikat, terutama terkait rencana fiskal Presiden Donald Trump yang belum mendapatkan persetujuan penuh dari Senat AS. Hal ini mendorong pelaku pasar melakukan diversifikasi investasi.
Optimisme Menyambut Transisi Pemerintahan
Meskipun sempat mengalami tekanan signifikan pada tahun lalu, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan menjelang transisi kekuasaan. Peran aktif pemerintah dalam menjaga keseimbangan fiskal melalui APBN menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi nasional.




