triggernetmedia.com – Pemerintah menilai pembentukan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan ekspor nasional. Selain menjadi tujuan ekspor utama, Amerika Serikat juga masih menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan besarnya nilai perdagangan dengan Amerika Serikat membuat pemerintah berkepentingan memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara melalui perjanjian dagang yang lebih komprehensif.
“Sampai dengan Januari-Juni, surplus terbesar kita tetap ke Amerika. Tahun lalu kita surplus 18,11 miliar dolar AS. Artinya, surplus terbesar kita itu masih ke Amerika, nomor dua India,” kata Budi di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Budi, sekitar 11,1 persen total ekspor Indonesia saat ini masih bergantung pada pasar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga akses produk nasional agar tetap kompetitif di tengah dinamika perdagangan global.
“Artinya bahwa memang kita sangat membutuhkan pasar Amerika,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Indonesia sebenarnya telah memiliki Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) dengan Amerika Serikat sejak 1996 sebagai forum pembahasan kerja sama perdagangan. Namun hingga kini, berbagai perundingan yang dilakukan belum menghasilkan kesepakatan dagang yang konkret.
“Itu wadah untuk melakukan perjanjian dagang, tetapi setiap perundingan dengan Amerika selalu gagal,” katanya.
Karena itu, pemerintah memandang ART sebagai momentum baru untuk memperkuat hubungan perdagangan bilateral sekaligus membuka peluang investasi yang lebih besar. Keberadaan perjanjian tersebut diyakini dapat meningkatkan kepercayaan investor yang ingin menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk menembus pasar Amerika maupun kawasan lain.
“ART itu kesempatan besar bagi kita. Justru kita harus ada perjanjian dengan Amerika karena pasar kita di sana sangat besar,” ujar Budi.
Ia menegaskan pemerintah tidak ingin kehilangan pasar ekspor yang nilainya mencapai sekitar 25,9 miliar dolar AS. Menurutnya, menjaga akses ke pasar Amerika merupakan bagian dari strategi mempertahankan kinerja ekspor dan surplus perdagangan Indonesia.
“Ya buktinya surplus kan? Surplus 18,11 miliar dolar AS. Surplus nomor satu. Jangan sampai ekspor kita 25,9 miliar dolar AS, jangan sampai pasar yang besar di Amerika itu hilang. Makanya kita tetap ART itu,” pungkasnya.











