triggernetmedia.com – Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) fosil berpotensi berkurang melalui pengembangan bahan bakar nabati. Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan Bensa (Bensin Sawit), inovasi bahan bakar alternatif yang dirancang sebagai drop-in fuel, sehingga dapat langsung dicampurkan dengan bensin konvensional tanpa memerlukan modifikasi mesin kendaraan.
Akademisi ITB, Rasrendra, menjelaskan bahwa Bensa dikembangkan menggunakan teknologi katalis khusus yang mampu mengubah minyak nabati dan limbah sawit menjadi senyawa hidrokarbon dengan karakteristik yang setara dengan bahan bakar fosil.
“Kualitas hidrokarbon dan jenis hidrokarbon dari Bensa sama persis seperti yang ada pada bahan bakar fosil. Karena sifat reaksi fundamental dari katalis yang kami kembangkan, kami menyebutnya sebagai bahan bakar drop-in,” ujar Rasrendra dalam diskusi di Kantor Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Dapat Meningkatkan Kualitas Bensin
Karena memiliki karakteristik yang serupa dengan bensin fosil, Bensa diproyeksikan menjadi komponen pencampur (blending component) untuk meningkatkan kualitas BBM nasional.
Salah satu pemanfaatannya adalah meningkatkan nilai Research Octane Number (RON) dari nafta berkualitas standar menjadi bensin dengan kualitas setara RON 95.
Inovasi ini dinilai dapat mendukung transisi energi nasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku energi terbarukan.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, penggunaan Bensa juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional serta menekan emisi karbon dari sektor transportasi.
Masih Menuju Tahap Produksi Massal
Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, Rasrendra menegaskan pengembangan Bensa menuju produksi komersial masih memerlukan serangkaian pengujian lanjutan, terutama untuk memastikan stabilitas teknologi dalam jangka panjang.
“Kami sebagai akademisi bertugas memastikan teknologinya memiliki jalur pengembangan yang jelas. Seluruh proses harus didasarkan pada pengujian dengan skala yang tepat,” katanya.
Riset Bensa didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) dan telah berhasil melewati tahap pengujian laboratorium. Saat ini, pengembangannya telah memasuki tahap pilot scale sebagai langkah menuju implementasi yang lebih luas.
Paparan lengkap mengenai teknologi, hasil pengujian, serta peta jalan pengembangan Bensa dijadwalkan akan disampaikan pada Pekan Riset Sawit yang diselenggarakan BPDP pada 20 Juli 2026.











