triggernetmedia.com – Intensitas cuaca ekstrem di Indonesia dan berbagai belahan dunia kian meningkat seiring percepatan pemanasan global dalam satu dekade terakhir.
Pakar klimatologi Fakultas Geografi UGM, Emilya Nurjani, menyebut laju kenaikan suhu Bumi kini hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Jika pada 1970–2015 suhu meningkat sekitar 0,2 derajat Celsius per dekade, dalam 10 tahun terakhir angkanya naik menjadi 0,35 derajat Celsius per dekade.
Menurut Emilya, peningkatan suhu tersebut berdampak pada mencairnya es di Kutub Utara yang berpotensi menaikkan permukaan air laut.
“Jika suhu udara makin tinggi, suhu muka laut juga meningkat. Dampaknya, siklon akan lebih sering terjadi dan meningkatkan risiko banjir, angin kencang, serta cuaca ekstrem,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, pemanasan global dipicu oleh penggunaan bahan bakar fosil yang meningkatkan emisi gas rumah kaca. Akibatnya, radiasi matahari lebih banyak terperangkap di atmosfer sehingga suhu permukaan Bumi terus meningkat.
Kondisi tersebut mempercepat proses evaporasi dan transpirasi yang meningkatkan kandungan uap air di atmosfer. Hal ini berdampak pada meningkatnya pembentukan awan dan curah hujan.
“Ketika pembentukan awan meningkat, intensitas hujan juga bertambah, sehingga berisiko menimbulkan genangan hingga banjir,” katanya.
Di sisi lain, peningkatan suhu juga dapat memperpanjang musim kemarau akibat pengaruh monsun Australia yang minim membawa uap air ke wilayah Indonesia.
Akibatnya, pembentukan awan berkurang dan musim kemarau menjadi lebih kering.
Kondisi ini turut berdampak pada sektor pertanian, terutama bagi petani yang kesulitan menentukan pola tanam akibat potensi kekeringan.
Sebagai langkah antisipasi, Emilya mendorong penerapan penampungan air hujan atau rainwater harvesting serta penggunaan air secara bijak sesuai kebutuhan.




