triggernetmedia.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional tetap aman hingga akhir 2026. Berdasarkan proyeksi neraca pangan tahun 2026, sebanyak 11 komoditas pangan strategis diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, mengatakan sejumlah komoditas utama seperti beras, jagung, gula konsumsi, cabai, daging ayam, dan telur ayam masih berada dalam kondisi surplus.
“Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026, secara umum ketersediaan 11 komoditas pangan strategis secara nasional berada dalam kondisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Beberapa komoditas utama seperti beras, jagung, gula konsumsi, cabai, telur ayam, dan daging ayam masih mencatatkan surplus,” ujar Edhy dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (15/7/2026).
Meski demikian, Bapanas mengakui masih terdapat beberapa komoditas yang produksi dalam negerinya belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Kekurangan tersebut dipenuhi melalui mekanisme perdagangan yang telah direncanakan pemerintah.
“Kebutuhan beberapa komoditas lainnya masih dipenuhi melalui mekanisme perdagangan yang telah direncanakan. Kondisi ini menjadi dasar bagi pemerintah dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan,” katanya.
Harga Pangan Masih Terkendali
Selain memastikan kecukupan stok, Bapanas juga menilai harga pangan nasional masih berada dalam kondisi relatif stabil. Namun, pemerintah akan terus melakukan intervensi di daerah-daerah yang mengalami kenaikan harga agar tetap berada dalam rentang Harga Acuan Pemerintah (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Sebagian besar komoditas secara nasional masih berada dalam kondisi terkendali. Meskipun pada beberapa komoditas dan wilayah tertentu masih diperlukan langkah stabilisasi agar harga tetap berada dalam rentang HAP maupun HET,” ujar Edhy.
Menurutnya, langkah stabilisasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geografis serta karakteristik masing-masing komoditas agar penyaluran lebih efektif dan tepat sasaran.
Program SPHP dan Gerakan Pangan Murah Terus Berjalan
Hingga pekan pertama Juli 2026, penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah mencapai 458 ribu ton atau sekitar 55,29 persen dari target tahunan sebesar 828 ribu ton.
Sementara itu, realisasi bantuan pangan tahap pertama untuk 33,2 juta keluarga penerima manfaat telah mencapai 99,90 persen.
Bapanas juga mencatat pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) telah digelar lebih dari 6.000 kali di 38 provinsi dan 444 kabupaten/kota sebagai upaya menjaga keterjangkauan harga pangan.
Di sektor peternakan, penyaluran jagung SPHP kepada peternak ayam petelur mandiri hingga 13 Juli 2026 telah mencapai 74.699 ton, atau sekitar 35,04 persen dari total alokasi tahunan sebesar 213.200 ton.
Menurut Bapanas, program tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga telur di tingkat produsen sekaligus memastikan pasokan pangan tetap terjaga hingga akhir tahun.











