triggernetmedia.com – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Nasional secara virtual dari Kantor Gubernur Kalbar, Senin (16/3/2026).
Rapat tersebut dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Tomsi Tohir, dan diikuti para gubernur, bupati, wali kota, serta instansi terkait dari seluruh Indonesia.
Dalam arahannya, Tomsi menekankan pentingnya pengendalian inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri. Pada periode tersebut, permintaan masyarakat terhadap berbagai komoditas pangan biasanya meningkat.
“Kita memasuki periode yang cukup krusial, yaitu Ramadan dan menjelang Idulfitri. Biasanya terjadi peningkatan permintaan terhadap sejumlah komoditas sehingga perlu langkah pengendalian yang lebih intensif agar harga tetap stabil,” ujar Tomsi.
Ia juga meminta pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.
Sementara itu, Direktur Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, memaparkan perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu kedua Maret 2026.
“Atas pemantauan hingga 13 Maret 2026, terdapat 222 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan IPH. Angka ini meningkat dibandingkan minggu pertama Maret yang tercatat 204 kabupaten/kota,” kata Ateng.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di banyak daerah antara lain telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, serta minyak goreng.
Ateng menyebut harga rata-rata nasional telur ayam ras telah melampaui harga acuan.
“Harga acuan telur ayam ras sebesar Rp30.000, sementara harga rata-rata nasional saat ini mencapai Rp32.585,” ujarnya.
Harga cabai rawit juga tercatat meningkat. Dari harga acuan Rp57.000, harga rata-rata nasional pada minggu kedua Maret mencapai Rp72.897.
Sementara itu, harga minyak goreng nasional tercatat sekitar Rp19.315 per liter, turun 0,42 persen. Untuk minyak goreng merek Minyak Kita, harga berada di kisaran Rp16.386, meskipun masih di atas harga eceran tertinggi Rp15.700.
Menanggapi hal tersebut, Harisson mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak guna menjaga stabilitas harga.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, Bulog, distributor, dan pelaku usaha agar pasokan bahan pangan tetap tersedia dan harga dapat terkendali,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah daerah akan mengambil langkah cepat jika terjadi lonjakan harga yang berpotensi memberatkan masyarakat, termasuk melalui operasi pasar dan penguatan distribusi.











