triggernetmedia.com – Nilai tukar rupiah melemah tipis pada perdagangan Kamis (19/2/2026). Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut rupiah terdepresiasi 0,04 persen ke level Rp16.894 per dolar AS.
Perry mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global serta naiknya permintaan valuta asing dari korporasi domestik seiring meningkatnya aktivitas ekonomi.
“Pelemahan nilai tukar tersebut terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi domestik,” ujar Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI yang digelar secara virtual.
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai langkah stabilisasi. BI melakukan intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri, transaksi spot dan domestic NDF (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, BI juga menambah likuiditas dengan menurunkan posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp819,50 triliun per 18 Februari 2026.
Perry menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya. Ia optimistis rupiah akan stabil dan cenderung menguat seiring inflasi yang terkendali dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap positif.











