triggernetmedia.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mendekati dua situs rehabilitasi orang utan yang dikelola Centre for Orangutan Protection (COP) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Sebanyak 18 individu orang utan yang berada dalam perawatan COP kini ditempatkan dalam kondisi siaga. Pengelola meningkatkan kewaspadaan menyusul titik api yang semakin mendekati kawasan konservasi ex-situ tersebut.
Manajer Komunikasi COP, Wahyuni, mengatakan salah satu lokasi berada di Kampung Tasuk yang menjadi tempat perawatan 17 individu orang utan. Beberapa hari sebelumnya, kebakaran sempat terjadi di kawasan gambut dan rawa yang berada di sekitar situs tersebut.
Api berhasil dikendalikan dengan cepat melalui penanganan tim gabungan. Kondisi geografis Tasuk yang masih dapat dijangkau armada pemadam kebakaran kota maupun bantuan pihak swasta turut mempermudah proses penanganan.
“Dua-duanya mengalami ancaman. Kalau di Kampung Tasuk itu di sekitar lokasi ada gambut dan rawa,” kata Wahyuni, Jumat (4/9/2026).
Sementara itu, ancaman lebih serius terjadi di situs kedua yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan. Lokasi tersebut berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Tasuk dan menjadi tempat perawatan satu individu orang utan unrelease bernama Ambon.
Akses Sulit, Evakuasi Disiapkan
Wahyuni mengatakan kondisi geografis Labanan menjadi tantangan tersendiri apabila kebakaran semakin mendekati lokasi Ambon. Armada tangki air sulit mencapai kawasan tersebut sehingga pemadaman harus mengandalkan peralatan yang sesuai dengan medan.
“Sementara kalau yang di Labanan, di Hutan Labanan itu agak sulit karena aksesnya memang juga susah. Jadi ke lokasi itu enggak bisa bawa tangki air. Jadi harus pakai jet shooter,” ujarnya.
Jarak kebakaran dengan lokasi Ambon juga mulai mengkhawatirkan. Abu sisa kebakaran bahkan sempat masuk hingga ke area kandang.
Meski demikian, kondisi fisik dan psikologis seluruh orang utan di kedua situs dilaporkan masih stabil. Lingkungan Hutan Labanan yang relatif alami dinilai mampu menyaring asap sehingga paparan terhadap Ambon masih terbatas.
Abu memang sempat mencapai kandangnya, tetapi jumlahnya tidak banyak karena telah tersaring oleh kondisi lingkungan sekitar. Ambon pun masih dapat menjalankan aktivitas dan latihan hariannya tanpa menunjukkan tanda-tanda stres.
Mengantisipasi kemungkinan terburuk, COP telah menyiapkan skema mitigasi dan evakuasi. Sejumlah kolam penampungan air disiapkan di sekitar lokasi, sementara sarana transportasi khusus, tim medis, serta dokter hewan juga disiagakan.
Jika api semakin mendekati kawasan Labanan, Ambon akan dievakuasi ke situs Tasuk yang dinilai lebih mudah dijangkau.
Ancaman Berlanjut Pascakarhutla
Wahyuni mengingatkan dampak karhutla tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Kerusakan habitat dapat memicu persoalan baru berupa berkurangnya sumber pakan bagi satwa.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan persaingan antarsatwa hingga mendorong orang utan memasuki kawasan permukiman warga untuk mencari makanan.
COP bahkan mencatat baru beberapa hari lalu pihaknya melakukan translokasi satu individu orang utan dari kawasan perkebunan kelapa sawit. Satwa tersebut diduga terdorong keluar dari habitat alaminya akibat kerusakan lingkungan.
Menurut Wahyuni, berkurangnya pakan dapat menyebabkan persaingan di antara orang utan maupun satwa lainnya. Jika konflik meningkat, satwa berpotensi mendekati permukiman sehingga membutuhkan penanganan dan evakuasi.
Karena itu, COP menilai penanganan karhutla perlu memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap habitat dan ketersediaan pakan satwa, bukan hanya berfokus pada pemadaman api.










