triggernetmedia.com – Kementerian Keuangan mencatat inflasi pada Januari 2026 mencapai 3,5 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi Desember 2025 yang tercatat sebesar 2,92 persen YoY.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh rendahnya basis perbandingan pada awal 2025 akibat kebijakan diskon tarif listrik.
“Peningkatan inflasi utamanya dipengaruhi oleh basis yang rendah pada awal tahun lalu akibat kebijakan diskon listrik,” kata Febrio dalam keterangan tertulis, Senin, 2 Februari 2026.
Febrio menjelaskan, kenaikan inflasi terlihat pada komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) yang melonjak dari 1,93 persen YoY pada Desember 2025 menjadi 9,71 persen YoY pada Januari 2026. Meski berada sedikit di atas sasaran, ia menilai tekanan inflasi tersebut bersifat sementara dan diperkirakan akan kembali normal pada Maret 2026.
Secara bulanan (month to month), inflasi Januari 2026 justru mencatat deflasi sebesar 0,15 persen. Deflasi dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai, bawang, daging ayam ras, telur ayam, dan aneka sayuran. Kondisi ini mendorong inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) turun tajam menjadi 1,14 persen YoY dari 6,21 persen YoY pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi inti tercatat meningkat menjadi 2,45 persen YoY. Kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan harga emas yang tumbuh sekitar 76,5 persen secara tahunan.
Febrio mengatakan pemerintah akan terus mencermati dinamika global dan dampaknya terhadap perekonomian nasional. Pemerintah, menurut dia, akan memperkuat hilirisasi sumber daya alam, meningkatkan daya saing ekspor, serta mendiversifikasi mitra dagang melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional.
“Pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali sesuai sasaran, khususnya inflasi pangan pada kisaran 3–5 persen di tengah tantangan cuaca, melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi,” ujar Febrio.
Selain itu, pemerintah juga akan menjaga daya beli masyarakat melalui stimulus diskon transportasi dan bantuan pangan, serta mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana dengan memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga ekspektasi inflasi.




