triggernetmedia.com – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia, Hasto Wardoyo, mengajak Penjabat Gubernur, Bupati, dan Wali Kota di Kalimantan Barat untuk menjadikan penurunan angka stunting sebagai prioritas utama dalam upaya kesejahteraan warga.
Saat ini, angka stunting di Kalimantan Barat mencapai 27,8 persen, yang dianggap sebagai tantangan serius.
Dalam rapat koordinasi program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting Provinsi Kalimantan Barat yang diadakan pada Rabu (6/9), Hasto Wardoyo menekankan perlunya kerja keras dari seluruh pihak untuk mengurangi angka stunting tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa jika terdapat satu daerah pun yang angka stuntingnya tidak mengalami penurunan, ia akan melaporkannya kepada Menteri Dalam Negeri dan Presiden untuk dievaluasi.
Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa salah satu indikator prestasi kepala daerah adalah kemampuannya dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk dan memajukan pembangunan daerah, dengan salah satunya adalah mengatasi masalah stunting.
“Saat ini angka stunting di Kalimantan Barat mencapai 27,8 persen. Jika angka stunting ini tidak turun hingga mencapai 15 persen, itu akan menjadi tugas berat. Saya yakin Presiden akan sangat memperhatikannya,” ujarnya.
Dalam konteks Kalimantan Barat, Hasto Wardoyo menekankan pentingnya penanganan stunting yang terfokus pada daerah-daerah strategis.
Ia mencatat bahwa daerah seperti Sambas memiliki tingkat pernikahan dini yang tinggi, sementara di Melawi, banyak pasangan menikah usia muda. Oleh karena itu, perlu ada perhatian khusus dalam mengatasi masalah ini.
Untuk mencapai target penurunan angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024, Hasto Wardoyo meminta agar calon pasangan yang akan menikah dipersiapkan dengan baik agar tidak menghasilkan anak stunting baru.
Hasto juga menyoroti pentingnya kesadaran dalam menginput data pra nikah yang rendah. Dalam setengah tahun terakhir, hanya dua ribu data yang masuk, padahal terdapat lebih dari 14 ribu pasangan yang menikah.
Jika strateginya tidak cerdas maka akan kedodoran dan stunting baru akan lahir terus karena hanya memperhatikan kasus paparan stunting, namun yang belum lahir tidak dipikirkan. “Saya berharap kalau bisa mencegah lahirnya stunting baru,” pintanya.










