banner 120x600 banner 120x600

Pemutaran Perdana Film Pendek Pesisir Film di Bumi Ale-Ale

banner 120x600
banner 468x60

KETAPANG (triggernetmedia.com) – Humas dan Publikasi Pesisir Films Viny Masra dalam konferensi pers mengatakan, seiring dengan banyaknya film yang hadir, diantaranya bertemakan romance, action, drama, biography, animation, fantasy, musical, history maupun tema lainya jadi bukti para pelaku industri perfilman di Indonesia saat ini.

“Ini membuktikan industri perfilman kita semakin dinamis,” kata Vini Masra, Minggu (2/12) di Coffee Addict, Ketapang.

Disi lain, ungkapnya, menilik perkembangan film nasional yang semakin baik memacu sineas-sineas lokal untuk turut ambil bagian lewat upaya yang telah dilakukan sineas lokal. Hal itu dilakukan tanpa kenal lelah guna menumbuhkan kecintaan terhadap karya anak bangsa.

“Salah satunya dengan cara menciptakan film-film panjang maupun pendek yang mengangkat kearifan lokal daerahnya sendiri, yang juga bisa dinikmati berbagai kalangan dan usia. Syarat dengan pesan moral dan dapat di ambil sisi positif dari setiap film yang telah mereka buat,” ujar Vini Masra.

Dikatakan, salah satunya belum lama ini hadir di Kabupaten Ketapang yakni Pesisir Films sendiri, yang tak lain merupakan Komunitas perfilman di Ketapang. Meski komunitas itu didirikan sejak 27 Agustus 2018 lalu, setidaknya komunitas tersebut telah mencoba turut meramaikan dan meningkatkan kuailtas industri kreatif di Kabupaten Ketapang khususnya dibidang perfilman.

Baca juga  Persatuan Ulama Muslim Internasional Kutuk Pembakaran Alquran di Swedia

“Walaupun masih seumur jagung, dalam beberapa bulan terahki Pesisir film mampu memproduksi dua film pendek mereka, yang salah satunya diikutsertakan dalam Kapuas River Film festival di Pontianak. Kedua Film ini juga sudah diluncurkan 1 Desember 2018 di Ketapang,” ungkap Vini Masra.

Film “Ale-Ale” bergenre drama komedi. Film tersebut merupakan film pertama yang di produksi oleh Pesisir Film. Film itu bercerita tentang kehidupan keluarga nelayan dan keresahan-keresahan yang dihadapi orangtua dikala perekonomian semakin susah dengan berbagai macam keinginan anaknya. Film itu juga mengangkat ciri khas Kabupaten Ketapang, fengsn makanan khas daerah pesisir Ale-Ale.

Produksi film tersebut memanfaatkan lokasi syuting di Pantai Celincing, Desa Suka Baru, Kecamatan Benua Kayong Ketapang. Menariknya, film berdurasi 20 menit itu dalam pembuatannya tergolong cukup singkat, karena dalam proses perampungan hanya memakan waktu lebih 2 bulan.

“Itu mulai dari pra produksi, produksi dan pasca poduksi,” sebut Vini Masra.

Secara moral film “Ale-Ale” menitikberatkan pada situasi dan kondisi kehidupan masyarakat diwilayah pesisir di Ketapang yang hidup dalam keterbatasan di era modern, namun mereka hidup sederhana dengan penuh rasa syukur kepada sang pencipta.

Baca juga  Daud Yordan dan Ongen Saknosiwi Naik Ring Awal Maret di Thailand

“Selain Ale-Ale, ada pula film pendek produksi Pesisir Films lainnya, yang berjudul Rindu berdurasi 5 menit. Terdengar singkat memang. Tetapi mempunyai makna mendalam,” kata Vini Masra.

Film “Rindu” bercerita tentang anak yang hidup sebatang kara setelah ibunya meninggal dunia. Aktor, Anggie berperan sebagai Dea berusaha untuk tetap tegar menjalani hidup dengan menyibukan diri ditempat kerjanya. Namun, Ia masih saja terbayang-bayang dengan wajah ibunya.

Peluncuran perdana film tersebut dihadiri langsung sang aktor, sutradara, produser serta kru film yang terlibat.

Selain pemutaran dan nonton bareng 2 karya film bersama komunitas Pesisir Films Ketapang, kegiatan tersebut juga menyuguhkan live musik band lokal Ketapang “Nexto, Stand Up Comedy dan door prize.

Pewarta : Jhon
Editor : Arizbroadcaster

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.