triggernetmedia.com – Tropenbos Indonesia bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Ketapang memfasilitasi diskusi terfokus dengan para pihak terkait untuk mensosialisasikan hasil kajian dan pemikiran yang tertuang didalam dokumen rencana teknis berjudul “Pencegahan Karhutbunla Gambut Berbasis Lanskap/KHG di Kabupaten Ketapang – Rencana Strategis dan Aksi untuk Lanskap Sungai Pelang”.
Lanskap Sungai Pelang, yang terdiri atas Desa Sungai Pelang, Desa Sungai Besar dan Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, sebagai model diharapkan kajian ini dapat menjadi masukan bagi perencanaan pencegahan karhutbunla di tingkat lanskap maupun direplikasi di kawasan lain yang memerlukannya.
Landskap Sungai Pelang yang didominasi oleh lahan gambut sering mengalami Karhutbunla di setiap kermarau panjang. Kondisi ini telah memimbulkan bencana asap yang mengganggu lalu lintas udara dan darat dan mengganggu perekonomian masyarakat di sekitar Kota Ketapang dan wilayah lain. Tindakan pencegahan kebakaran (fire prevention) melalui upaya mempertahankan kebasahan ekosistem gambut saat musim kemarau merupakan langkah efektif daripada upaya penanggulangan kebakaran (fire suppression).
Tropenbos Indonesia menyusun dokumen ini sebagai bentuk dukungan bagi Pemerintah Kabupaten Ketapang yang memiliki visi “Terbebasnya Kabupaten Ketapang dari karhutbunla gambut, terpeliharanya lahan gambut dalam ekosistem basah, dan terjaganya penghidupan masyarakat di sekitar lahan gambut secara berkelanjutan.”
“Dokumen ini sekaligus diharapkan dapat menjadi semacam panduan bagi kelompok kerja multi-pihak (multi-stakeholder working group) yang telah terbentuk dalam upaya pencegahan kebakaran di lahan gambut di Ketapang,” kata Direktur Tropenbos Indonesia, Edi Purwanto, seperti dikutip dari siaran pers Tropenbos Indonesia. Jum’at (9/4/2021) di Ketapang.
“Dengan meningkatnya kewaspadaan berbagai pihak untuk mencegah terjadinya karhutbunla melalui pemeliharaan kebasahan ekosistem gambut diharapkan secara efektif mampu mengendalikan terjadinya karhutbunla di lahan gambut di Lanskap Sungai Pelang. Selain itu, upaya pencegahan yang melibatkan kolaborasi berbagai pihak ini diharapkan dapat mempererat rasa tanggung jawab dan kebersamaan seluruh pemangku kepentingan terkait, serta meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi program sehingga upaya pencegahan karhutbunla dapat berjalan lebih efektif,” paparnya.
Acara diskusi ini melibatkan para pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang, seperti perwakilan dari instansi pemerintah (Pemda, Kejari, Bappeda, BPBD, Manggala Agni, KPH, Dinas Kehutanan Provinsi, Dinas PU dan Tata Ruang, TNGP, KSDA, LPHD, Desa), perwakilan dari LSM, dan perwakilan dari sektor swasta. Setelah menghadiri acara ini dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendekatan pencegahan karhutbunla yang disampaikan oleh Tropenbos Indonesia dan pendekatan restorasi gambut oleh BRGM, para pemangku kepentingan yang hadir memberikan komitmennya melalui Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang disepakati bersama untuk dilaksanakan sebagai upaya pencegahan karhutbunla kolaboratif berbasis multi-pihak.
Keterlibatan Tropenbos Indonesia dalam upaya pencegahan karhutbunla di Ketapang berawal dari diskusi informal yang kemudian menguat dalam diskusi di Kejari pada Juni 2020. Setelah itu, sejumlah tahapan kegiatan dilakukan mulai dari pemetaan kanal gambut, penyusunan draft rencana teknis, perumusan kegiatan, survei lokasi bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa dan mahasiswa Fakultas Kehutanan, Universitas Tarumanegara, pemetaan para pemangku kepentingan, FGD penataan hidrologi gambut, pemancangan patok pendirian posko pencegahan karhutbunla, sosialisasi dan koordinasi antar desa, pembentukan forum antar desa dan rapat kerja pembentukan divisi kerja, serta sejumlah rapat koordinasi dengan Bappeda.
Pewarta : Jhon
Editor : Ariz










