triggernetmedia.com – Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan mencanangkan Gerakan Membaca-kan. Gerakan Membaca-kan adalah gerakan inovasi literasi yang bertujuan membangun karakter dan kemampuan literasi pada peserta didik.
“Selain menumbuhkan minat baca, gerakan membacakan bertujuan membangun rasa percaya diri, mengembangkan dasar relasi hubungan sosial, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada anak,” ungkapnya, Jum’at (31/1).
Muda menyebut, pencanangan Gerakan Membaca-kan Kamis (30/1) itu dihadiri 586 orang peserta. Mereka terdiri dari 61 pengawas atau penilik, 377 kepala sekolah dasar negeri dan swasta, dan 148 kepala sekolah menengah pertama negeri dan swasta, yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Kubu Raya.
Pencanangan, kata Muda, ditandai penyerahan secara simbolis Peraturan Bupati Kubu Raya Nomor 3 Tahun 2020 tentang Gerakan Membacakan kepada perwakilan kepala sekolah. Selain itu diserahkan modul kepada perwakilan siswa SD dan SMP.
“Kalau gerakan membaca itu sudah jelas dari dulu. Dan ternyata budaya baca di negeri ini masih sangat rendah. Sekadar membaca sendiri pintarnya juga pintar sendiri,” katanya.
“Mungkin banyak anak yang pintar tapi kemampuan komunikasinya sangat lemah. Nilainya baik tapi belum tentu sukses ke depan. Padahal kepemimpinan dalam level apapun perlu kemampuan komunikasi,” katanya lagi.
Gerakan Membaca-kan, sambung Muda, bukanlah gerakan instan. Alih-alih sekadar gagah-gagahan. Gerakan Membacakan, menurutnya, adalah bagian dari panggilan rasa tanggung jawab kepada generasi.
Menurutnya, Gerakan tersebut terinspirasi dari beberapa sekolah alam di sejumlah negara maju. Di mana kemampuan berkomunikasi anak-anak di negara itu bisa optimal.
“Dalam aktivitas membacakan ada kontak antara pembaca dan pendengar. Nah, tentu itu membutuhkan adanya suatu kemampuan untuk anak bisa membuka relasi dan keberanian untuk percaya diri membacakan kepada siapapun di lingkungannya,” ujar Muda.
Muda menyebut Gerakan Membacakan juga menjadi upaya untuk anak bisa menghargai buku sebagai sumber ilmu. Sekaligus sebagai opsi baru berkegiatan yang dapat mengalihkan anak dari ketergantungan kepada gadget atau gawai.
Bahkan menurutnya keberadaan gawai harus dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan Gerakan membacakan.
“Jangan sampai anak-anak hanya berkelindan dengan gawai. Bahkan itu harus digunakan untuk mendukung Gerakan Membacakan. Anak-anak bisa saling aktualisasi dengan direkam melalui gawai. Nanti dokumentasi itu disampaikan kepada guru,” jelasnya.
Masih menurut Muda, Gerakan Membacakan sejalan dengan pokok-pokok kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yakni Merdeka Belajar. Yang salah satunya mengubah ujian nasional tahun 2021 menjadi assesmen kompetensi minimal dan survey karakter yaitu literasi, numerasi, dan karakter. Ia menyebut Gerakan Membacakan menjawab apa yang diprogramkan Menteri Nadiem.
“Ini membangun korelasi antara sekolah, murid, dan orang tua. Ada empat desa yang dilakukan lebih dulu Gerakan ini, yaitu Tebang Kacang, Tanjung Saleh, Punggur, dan Sungai Kupah,” jelas Muda.
“Dan kelihatan pergeseran karakter anak yang itu nanti juga disurvei oleh guru yakni survei karakter. Juga menilai bagaimana merdeka belajar, di mana salah satunya membangun inisiatif anak, kemampuan berpendapat, dan memunculkan ide anak,” pungkas Muda.
Rio I Ariz




