triggernetmedia.com – Api karhutla mungkin dapat dipadamkan dalam hitungan hari. Namun, bagi ekosistem gambut, berakhirnya kobaran api bukan berarti persoalan selesai.
Kerusakan yang ditinggalkan kebakaran dapat berlangsung jauh lebih lama. Vegetasi memang bisa kembali tumbuh dan membuat lahan terlihat hijau, tetapi pemulihan ekosistem gambut membutuhkan proses panjang, bahkan dapat mencapai puluhan tahun.
Dosen Fakultas Kehutanan UGM Fiqri Ardiansyah mengatakan, lama pemulihan sangat bergantung pada kondisi ekosistem sebelum terbakar dan seberapa parah kerusakan yang terjadi.
Semakin besar gangguan yang ditimbulkan, semakin panjang waktu yang diperlukan agar ekosistem kembali mendekati kondisi semula.
“Yang bisa dikembalikan itu secara yang paling cepat itu adalah bagaimana mengembalikan penutupannya dulu,” kata Fiqri kepada Suara.com, Selasa (11/8/2026).
Namun, kembalinya tutupan vegetasi bukan berarti hutan telah pulih sepenuhnya.
“ Tapi kalau secara hijau lagi belum tentu itu strukturnya mendekati yang sebelumnya, biodiversitasnya mendekati yang sebelumnya,” ujarnya.
Lahan Kembali Hijau, Ekosistem Belum Pulih
Beberapa waktu setelah kebakaran, rumput, semak, dan tumbuhan pionir mulai tumbuh. Dari kejauhan, kawasan yang sebelumnya terbakar dapat terlihat kembali hijau.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan hutan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Hutan alami memiliki struktur vegetasi yang lebih kompleks, jenis tumbuhan yang beragam, serta sistem perakaran yang memainkan peran penting bagi keseimbangan ekosistem.
Setelah mengalami kebakaran, kawasan harus melewati proses suksesi. Vegetasi kembali tumbuh secara bertahap, dimulai dari jenis-jenis tumbuhan sederhana hingga akhirnya berkembang menjadi vegetasi yang lebih kompleks.
“Jadi ada fase suksesinya dan itu sangat lama kalau kemudian kembali mendekati kondisi sebelumnya,” ungkap Fiqri.
Karena itu, warna hijau yang muncul setelah kebakaran tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan rehabilitasi.
Gambut Memiliki Masalah yang Lebih Kompleks
Pemulihan menjadi jauh lebih rumit ketika api membakar lapisan gambut.
Gambut bukan sekadar tanah tempat tumbuhnya tanaman. Lapisan organik tersebut terbentuk melalui proses alami yang berlangsung sangat lama dan menyimpan air dalam jumlah besar.
Ketika gambut terbakar dan lapisannya mengalami kerusakan berat, fungsi kawasan dapat berubah. Kemampuan gambut dalam menyimpan dan mengatur air ikut terganggu.
“Untuk gambut itu perlu waktu yang betul-betul sangat lama karena pembentukan gambut itu dengan ketebalan tertentu pun juga ratusan bahkan mungkin ribuan tahun itu untuk pembentukannya,” jelas Fiqri.
Kerusakan lapisan gambut juga dapat mengubah pola genangan. Kawasan yang kehilangan lapisan gambut dapat lebih mudah tergenang ketika air melimpah, tetapi cepat mengering saat musim kemarau.
Siklus tersebut membuat kawasan semakin rentan terhadap kebakaran berikutnya.
Api Padam, Bara dan Kerusakan Masih Tertinggal
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti ketika asap menghilang dan api dinyatakan padam.
Pada kawasan yang terbakar berat, kerusakan dapat memengaruhi struktur ekosistem dalam jangka panjang. Hilangnya vegetasi, rusaknya lapisan gambut, serta perubahan tata air membuat proses pemulihan menjadi semakin kompleks.
Pemulihan juga tidak bisa hanya dilakukan dengan menanam pohon.
Vegetasi yang ditanam harus mampu berkembang dalam ekosistem yang sesuai, sementara kondisi hidrologis gambut perlu dijaga agar tetap basah. Tanpa perbaikan tata air, kawasan gambut yang telah terdegradasi tetap rentan mengalami kekeringan dan kebakaran berulang.
Karena itu, keberhasilan rehabilitasi seharusnya dilihat dari berbagai aspek, mulai dari kembalinya vegetasi, keanekaragaman hayati, struktur ekosistem, hingga fungsi hidrologis.
Puluhan Tahun untuk Mendekati Kondisi Semula
Pemulihan ekosistem merupakan proses bertahap. Hutan tidak dapat kembali menjadi seperti sebelum kebakaran hanya dalam beberapa musim.
Menurut Fiqri, sejumlah kajian menunjukkan bahwa pemulihan fungsi ekosistem dapat berlangsung lebih dari puluhan tahun.
“Di studi itu bisa sampai lebih dari puluhan tahun itu terus kemudian untuk bisa kembali fungsinya mendekati yang sebelumnya,” pungkasnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan betapa panjangnya dampak sebuah kebakaran. Api dapat muncul akibat satu sumber pembakaran dan meluas dalam waktu singkat, tetapi kerusakan yang ditinggalkannya dapat membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.
Terlebih di kawasan gambut, proses pembentukan lapisan gambut sendiri berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun.
Karena itu, mencegah kebakaran menjadi jauh lebih penting daripada sekadar memulihkan lahan setelah api padam. Ketika gambut sudah terbakar dan mengalami kerusakan berat, waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan fungsinya tidak sebanding dengan waktu yang diperlukan untuk memicu kebakaran.










