triggernetmedia.com – Kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi secara berlebihan (bruxism) kerap dianggap sebagai masalah ringan. Padahal, jika berlangsung terus-menerus tanpa penanganan, kondisi tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan mulut, mulai dari gigi aus, gigi retak, hingga nyeri pada rahang.
Dokter gigi RSUD SSMA Kota Pontianak, Annisa Putri, mengatakan bruxism dapat terjadi saat seseorang sedang tidur (sleep bruxism) maupun ketika terjaga (awake bruxism). Banyak penderita tidak menyadari kebiasaan tersebut hingga muncul berbagai keluhan.
“Gejalanya bisa berupa sakit kepala saat bangun tidur, rahang terasa pegal, gigi menjadi sensitif, atau suara gemeretak gigi yang terdengar oleh pasangan saat tidur,” kata Annisa saat memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Kamis (2/7/2026).
Menurut dia, tekanan yang terjadi secara terus-menerus pada gigi dan sendi rahang dapat mengikis lapisan email gigi. Jika tidak ditangani, kondisi itu berisiko menyebabkan retakan gigi, kerusakan tambalan, bahkan kehilangan gigi pada kasus yang lebih berat.
Selain merusak gigi, bruxism juga dapat mengganggu fungsi sendi rahang. Penderita dapat mengalami nyeri, bunyi “klik” saat membuka mulut, hingga kesulitan mengunyah makanan.
Annisa menjelaskan, penyebab bruxism cukup beragam. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan tekanan emosional menjadi pemicu yang paling sering ditemukan. Selain itu, gangguan tidur, konsumsi kafein atau alkohol secara berlebihan, kebiasaan merokok, serta kondisi tertentu pada susunan gigi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya bruxism.
Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter gigi apabila mengalami gejala yang mengarah pada bruxism. Menurutnya, diagnosis sejak dini penting untuk mencegah kerusakan gigi yang lebih parah.
Penanganan bruxism dapat dilakukan melalui penggunaan pelindung gigi (night guard) saat tidur, perawatan terhadap gigi yang mengalami kerusakan, serta mengatasi faktor pemicunya, seperti mengelola stres dan memperbaiki kualitas tidur.
Selain itu, Annisa menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat, seperti tidur yang cukup, melakukan relaksasi sebelum tidur, membatasi konsumsi minuman berkafein pada malam hari, serta rutin memeriksakan kesehatan gigi setiap enam bulan.
“Bruxism sering kali tidak disadari, tetapi dampaknya bisa berlangsung dalam jangka panjang. Mengenali gejalanya sejak dini dan mendapatkan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan gigi, rahang, dan kualitas hidup,” ujarnya.










