triggernetmedia.com – Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia. Pada perdagangan Senin (25/5/2026), rupiah bahkan menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang ditutup di zona merah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.744 per dolar AS atau melemah 27 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.716 per dolar AS.
Sementara itu, sejumlah mata uang Asia justru menguat seiring turunnya harga minyak dunia akibat meningkatnya prospek perdamaian di Timur Tengah.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global.
“Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah,” kata Ibrahim di Jakarta.
Peneliti ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Dwi Wulan, mengatakan pelemahan rupiah lebih banyak dipicu persoalan struktural dalam negeri yang memengaruhi kepercayaan investor.
Menurut dia, sepanjang tahun 2026 rupiah telah melemah sekitar 5,4 persen terhadap dolar AS, lebih buruk dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.
Dwi menilai investor mulai meragukan kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk data pertumbuhan ekonomi yang diklaim mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026.
“Jadi ketika informasi GDP keluar tidak membuat investor yakin untuk kembali berinvestasi di Indonesia,” ujar Dwi dalam diskusi ekonomi di Jakarta.
Hal senada disampaikan ekonom Permata Bank, Josua Pardede. Ia menyebut Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengalami arus keluar investasi asing secara signifikan.
Permata Bank mencatat arus modal asing keluar dari pasar obligasi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai sekitar 1,48 miliar dollar AS dan 1,95 miliar dollar AS dari pasar saham.
Menurut Josua, kondisi tersebut berkaitan erat dengan persepsi investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
“Kita melihat sekali lagi bahwa kondisinya di bonds market itu berkaitan sangat erat dengan kondisi kebijakan fiskal dan kebijakan pemerintah,” katanya.
Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia, Teuku Riefky, mengingatkan pentingnya menjaga kredibilitas pemerintah dalam menyampaikan data ekonomi.
Ia menyebut hilangnya kepercayaan publik terhadap data ekonomi dapat berdampak besar terhadap stabilitas pasar dan investasi.










