triggernetmedia.com – Pemerintah Kota Pontianak memperkuat pengendalian inflasi menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah/2026 melalui High Level Meeting (HLM) Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar di Pontive Center, Selasa (5/5/2026).
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan, kondisi inflasi Kota Pontianak saat ini masih berada pada kategori aman atau zona hijau. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Pontianak merupakan daerah distribusi, bukan penghasil komoditas.
“Dari paparan awal, kondisi inflasi kita masih dalam zona aman. Ini harus terus kita jaga bersama, apalagi menjelang Iduladha di mana biasanya terjadi peningkatan permintaan bahan pokok,” ujarnya.
Menurut Bahasan, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi acuan utama dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi. Ia menekankan pentingnya sinergi antarinstansi agar langkah yang diambil tepat sasaran.
“Data BPS sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan. Dengan data yang akurat, kita bisa menentukan langkah strategis dalam menjaga stabilitas harga,” jelasnya.
Ia juga menyinggung arahan Kementerian Dalam Negeri terkait pemberian insentif kepada daerah yang berhasil mengendalikan inflasi.
“Kita harus berupaya maksimal agar bisa meraih penghargaan pengendalian inflasi. Ini penting sebagai bentuk apresiasi atas kinerja daerah sekaligus menjadi motivasi bagi kita semua,” tuturnya.
Berdasarkan data BPS Kota Pontianak, inflasi April 2026 secara bulanan (month-to-month) tercatat sebesar 0,59 persen. Secara tahunan (year-on-year) inflasi mencapai 2,15 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) berada di angka 1,42 persen.
Statistisi Ahli Madya BPS Kota Pontianak, Ahmad Badar, menyebutkan angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Jika dibandingkan April tahun lalu yang mencapai 1,24 persen, inflasi April tahun ini sebesar 0,59 persen menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, capaian inflasi tersebut masih berada dalam rentang target nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Dengan angka tersebut, Kota Pontianak termasuk daerah yang mampu menjaga stabilitas inflasi pada level rendah,” tambahnya.
Ahmad Badar menjelaskan, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar akibat kenaikan harga avtur yang berdampak pada tarif angkutan udara.
“Kenaikan harga avtur berdampak pada tarif angkutan udara, sehingga mendorong inflasi pada kelompok transportasi,” paparnya.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil terhadap inflasi.
BPS Kota Pontianak berharap tren inflasi yang terkendali dapat terus dipertahankan sepanjang tahun 2026.
“Dengan demikian, Pontianak berpeluang kembali meraih penghargaan sebagai daerah dengan kinerja pengendalian inflasi yang baik di tingkat nasional,” tutupnya.




