triggernetmedia.com – Sektor pertambangan Indonesia kini memasuki babak baru dalam sejarah transformasi industrinya. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya mineral nasional.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Aryo Djojohadikusumo, dalam acara Energy Insights Forum bertajuk “Harnessing Artificial Intelligence to Unlock Mining’s Next Frontier” di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
“Kita sedang memasuki era baru dalam dunia pertambangan—era kecerdasan buatan. AI bukan hanya alat bantu efisiensi, tetapi pemandu arah transformasi industri nasional. Karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga riset menjadi sangat penting,” ujar Aryo.
AI Jadi Pilar Transformasi Industri Tambang
Menurut Aryo, penerapan AI membawa solusi atas berbagai tantangan klasik sektor tambang, seperti efisiensi energi, keselamatan kerja, dan produktivitas lapangan.
“AI adalah kunci agar pelaku usaha tambang dapat melangkah lebih adaptif, lebih presisi, dan berkelanjutan. Ini juga penting untuk menjaga posisi Indonesia sebagai pemain besar dalam rantai pasok mineral dunia,” tambahnya.
Selain mendorong efisiensi, AI berpotensi memperkuat tata kelola industri, termasuk dalam pencegahan praktik pertambangan ilegal melalui sistem pemantauan berbasis data dan analitik prediktif.
Aryo meyakini, kolaborasi lintas sektor menjadi syarat utama agar transformasi digital ini benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang.
Bukti Global: Dampak Nyata AI di Dunia Pertambangan
Dalam forum tersebut, Sergey Alyabyev dan Hidayat Liu, Partner dan Co-Leader McKinsey & Company’s Metals and Mining Practice in Asia, memaparkan hasil studi internasional mengenai dampak AI terhadap kinerja industri tambang.
Data McKinsey menunjukkan:
-
Optimalisasi pabrik pengolahan berbasis AI dapat meningkatkan throughput sebesar 5–15% dan recovery rate hingga 2 poin persentase.
-
Teknologi AI-enabled drill and blast mampu menekan biaya operasional hingga 10% serta meningkatkan produktivitas alat berat hingga 20%.
-
Penerapan Generative AI copilots berpotensi menaikkan produktivitas tenaga kerja sebesar 5–10%, sekaligus menurunkan biaya operasional di tingkat serupa.
“Kami melihat posisi Indonesia sangat strategis untuk memanfaatkan AI di seluruh rantai pasok tambang, dari eksplorasi hingga pemrosesan. AI bukan hanya mendorong efisiensi, tetapi juga membantu industri mencapai target dekarbonisasi dan keberlanjutan,” jelas Hidayat.
Manusia dan Teknologi: Sinergi, Bukan Pengganti
Sementara itu, Senior Director Business III Danantara, Luke Mahony, menegaskan bahwa AI bukan ancaman bagi tenaga kerja manusia, melainkan alat yang memperluas kemampuan manusia dalam mengambil keputusan.
“Teknologi tidak akan menggantikan manusia. Ia justru memperluas kapasitas manusia. Dengan memadukan kecepatan komputasi dan empati manusia, kita bisa menciptakan industri yang bukan hanya lebih produktif, tetapi juga lebih bermakna,” tutur Luke.
Ia menambahkan, penting bagi Indonesia membangun ekosistem pertambangan cerdas (smart mining ecosystem) melalui kolaborasi nasional yang inklusif antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan lembaga riset.
Membangun Ekosistem Energi Masa Depan
Energy Insights Forum merupakan agenda bulanan yang digelar oleh KADIN Bidang ESDM bersama Katadata Insight Center. Forum ini menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan energi dan pertambangan untuk berbagi pandangan, strategi, serta inovasi guna menciptakan ekosistem investasi energi yang transparan, adaptif, dan berdaya saing global.
Transformasi digital melalui teknologi AI diyakini akan menjadi fondasi utama industrialisasi pertambangan Indonesia, menuju industri yang lebih efisien, hijau, dan berkelanjutan.











