triggernetmedia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis. IHSG terkoreksi 16,75 poin atau 0,21 persen ke level 8.008.
Mengutip riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas, sektor teknologi menjadi penopang utama dengan penguatan 4,26 persen, sedangkan sektor keuangan tertekan paling dalam dengan pelemahan 0,84 persen.
Pengaruh Sentimen Global
Pergerakan IHSG sejalan dengan bursa Asia yang ditutup mixed, dipicu langkah The Federal Reserve yang memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan. The Fed juga memberi sinyal dua kali pemangkasan tambahan hingga akhir tahun, dengan fokus pada pelemahan pasar tenaga kerja.
Dari Tiongkok, Bank Sentral (PBoC) menahan suku bunga reverse repo tujuh hari di 1,4 persen. Keputusan ini memunculkan spekulasi bahwa stimulus baru kemungkinan ditunda hingga tahun depan.
Sementara itu, pasar menantikan hasil negosiasi dagang AS–Tiongkok, termasuk kemungkinan kesepakatan terkait TikTok. Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada Jumat untuk membahas detail perjanjian tersebut.
Dari Jepang, Bank of Japan (BOJ) memulai pertemuan kebijakan dua hari. Suku bunga diperkirakan tetap, meski ada peluang kenaikan 25 bps pada Oktober jika ekonomi menunjukkan ketahanan. Situasi politik Jepang juga ikut jadi perhatian, dengan Partai Demokrat Liberal segera memilih pengganti Perdana Menteri Shigeru Ishiba pada 4 Oktober.
Sentimen Domestik
Di dalam negeri, IHSG turut tertekan pelebaran defisit RAPBN 2026 dari Rp638,8 triliun (2,48% PDB) menjadi Rp689,1 triliun (2,68% PDB).
Saham Penopang dan Penekan
Beberapa saham LQ45 yang menopang indeks antara lain BRPT, SCMA, JPFA, EXCL, dan CPIN. Sementara saham yang menekan IHSG di antaranya AMRT, MAPA, MDKA, ISAT, dan BBTN.
Sepanjang perdagangan, saham yang mencatat kenaikan terbesar adalah GTRA, BUVA, FISH, CLAY, dan DWGL. Sedangkan penurunan terdalam dialami OKAS, AKPI, ITMA, KETR, dan ASHA.




