triggernetmedia.com – Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat, Harisson, melakukan tinjauan langsung terhadap pembongkaran pasokan beras impor dari Vietnam dan Thailand di Pelabuhan Internasional Kijing, Rabu (29/11).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan beras yang cukup di tengah ancaman banjir yang sering melanda daerah tersebut saat musim penghujan.
Harisson menyatakan bahwa banjir merupakan masalah besar di Kalimantan Barat saat musim penghujan, sehingga Pemerintah Provinsi telah menyiapkan stok cadangan pangan untuk disalurkan ke daerah-daerah terdampak banjir.
“Dengan adanya fenomena El Nino, masa panen kita mundur. Prediksi panen baru akan terjadi sekitar bulan April tahun depan. Oleh karena itu, impor beras dari Vietnam dan Thailand menjadi solusi bagi kebutuhan beras di Kalimantan Barat. Saya pastikan bahwa kebutuhan beras akan tercukupi hingga periode Natal dan setelahnya,” tegas Harisson.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menerima pasokan beras Bulog yang diangkut menggunakan kapal dari Vietnam dan Thailand sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
“Hingga saat ini, sudah terdapat 9 kapal yang membawa stok beras dari kedua negara tersebut, dengan kisaran antara 4.000 hingga 6.000 ton per kapal. Hari ini saja, kami menerima sebanyak 3.900 ton,” jelas Harisson.
Terhadap permasalahan harga beras di pasar saat ini, Pj Gubernur Kalbar berharap agar Bulog dapat memperbanyak rumah pangan atau toko pangan yang menyediakan Beras Satu Harga Premium (SPHP) untuk dijual kepada masyarakat.
“Jika suplai Beras SPHP ini bertambah sesuai instruksi Presiden, maka akan berpengaruh pada harga pasar dan menurunkan harga beras di pasaran. Hal ini akan meringankan beban masyarakat terhadap harga beras,” paparnya.
Sementara itu, dalam upaya pengendalian harga beras, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sedang berupaya meminta aturan lebih lanjut dari pemerintah pusat terkait sanksi atas penjualan beras di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), kecuali jika terdapat kompensasi dari segi transportasi.
Dedi Aprilyadi, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kalimantan Barat, melaporkan bahwa sebanyak 37.500 ton beras telah diterima oleh Kalimantan Barat dari pemasok di Vietnam dan Thailand.
Ia juga mengungkapkan rencana untuk mendatangkan tambahan pasokan sekitar 5.500 ton beras dari Vietnam.
Dedi juga menegaskan bahwa Rumah Pangan Kita (RPK) yang menjual beras di atas harga HET akan dikenakan sanksi.
“Kami akan memberikan sanksi kepada RPK yang menjual Beras SPHP di atas HET yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu sebesar Rp 11.500. Kami tidak akan lagi menurunkan pasokan kepada mereka yang melakukan Pre-Order. Namun, ini hanya bersifat sementara hingga ada sanksi resmi dari pemerintah,” tegas Dedi.
