triggernetmedia.com – Direktur RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Eva Nurfarihah, menyoroti pentingnya pencegahan dalam menghadapi penyakit demam berdarah (DBD) di tengah masyarakat.
Menurutnya, cara terbaik untuk menghindari DBD adalah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menghindari gigitan nyamuk, dan mengambil langkah-langkah preventif untuk mengurangi populasi nyamuk.
“Pencegahan itu lebih penting daripada mengobati. Kita aktif memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar mereka memahami cara menghindari virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus sebagai penyebab penyakit DBD,” ungkap Eva, Jumat (10/11).
Eva juga menekankan bahwa vaksin demam berdarah atau vaksin dengue tetravalen (TVD) telah mendapatkan izin edar di beberapa negara endemik demam berdarah. Vaksin ini menjadi langkah preventif tambahan untuk melawan penyebaran penyakit tersebut.
Dalam upaya menghadapi potensi lonjakan kasus DBD, RSUD SSMA telah meningkatkan kapasitas tempat tidur, khususnya di bagian anak menjadi 26 tempat tidur, termasuk untuk pasien yang perlu diobservasi ketat.
“Kita sudah menambah kapasitas tempat tidur di bagian anak untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Selain itu, pelatihan juga telah diberikan kepada tenaga kesehatan, seperti dokter umum, perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan perawat rawat inap, guna mengantisipasi lonjakan kasus DBD,” tambah Eva.
Direktur RSUD SSMA, yang juga seorang dokter spesialis THT, menegaskan bahwa penanganan pasien DBD di RSUD SSMA mengikuti standar World Health Organization (WHO).
Ditempat yang sama, Dokter Spesialis Anak RSUD SSMA, Rista Lestari mengatakan bahwa pasien DBD ditangani sesuai dengan standar World Health Organization (WHO), terutama berkaitan tata laksana penanganan DBD.
Tata laksana DBD terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, pasien tanpa tanda bahaya. Terhadap pasien ini, kata dia, hanya diberikan edukasi rawat jalan. Kedua. pasien tanda bahaya atau yang memang berasal dari populasi dengan risiko tinggi.
“Ketiga, kelompok pasien yang memerlukan tata laksana intensif dan serius, biasanya sudah demam berdarah dengan manifestasi berat,” pungkasnya.










