triggernetmedia.com – Pemerintah Kota Pontianak bersama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa kembali memperkuat pasokan air bersih bagi masyarakat di tengah kondisi air baku Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang masih terdampak intrusi air laut.
Sebanyak lima juta liter air tawar dari Desa Radak, Kecamatan Terentang, tiba di Pontianak dan mulai diproses di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Parit Mayor, Pontianak Timur, Sabtu (19/9/2026).
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, air tawar tersebut diangkut menggunakan tongkang dan tiba sejak Jumat malam. Proses pembongkaran dan pengaliran ke IPA Parit Mayor dilakukan mulai Sabtu pagi.
IPA Parit Mayor memiliki kapasitas pengolahan sekitar 300 liter per detik. Air tawar yang tiba selanjutnya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah Pontianak Timur.
“Nanti air ini akan didistribusikan kepada warga, khususnya di Pontianak Timur,” ujar Edi.
Dari total lima juta liter air, sebanyak empat juta liter akan disalurkan melalui keran warga Pontianak Timur. Sementara satu juta liter lainnya ditampung secara terpisah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang mengambil air menggunakan galon atau jerigen.
Dengan pola distribusi tersebut, warga Pontianak Timur tidak perlu mengambil air tawar hingga ke IPA Imam Bonjol.
“Selain kita distribusikan ke masyarakat melalui keran, kita juga ada cadangan 1 juta liter yang bisa diambil langsung oleh masyarakat. Jadi, tidak perlu menyeberang ke Imam Bonjol,” katanya.
Pemkot Pontianak juga masih menunggu kedatangan tongkang berikutnya dengan kapasitas sekitar lima juta liter dari Desa Radak. Lokasi penyaluran air tersebut nantinya akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
“Nanti kita cek apakah akan diarahkan ke sini, ke IPA Kuning, atau ke Imam Bonjol,” kata Edi.
Edi menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengambilan dan pengangkutan air tawar dari Desa Radak hingga tiba di Pontianak.
“Saya berterima kasih kepada Pak Rico yang luar biasa membawa air ini mulai dari berangkat sampai selamat tiba di tempat ini, dan juga kepada teman-teman lainnya yang telah membantu pengambilan air di Radak, Terentang,” ujarnya.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Abdullah menjelaskan, kadar garam air baku Sungai Kapuas dan Sungai Landak masih mengalami fluktuasi. Pada Sabtu pagi, kadar garam di kawasan Imam Bonjol tercatat sekitar 1.800 miligram per liter, sedangkan di Selat Panjang mencapai sekitar 2.500 miligram per liter.
Angka tersebut masih berada di atas batas 600 miligram per liter yang menjadi acuan kelayakan untuk kebutuhan tertentu. Kondisi ini membuat pasokan air tawar dari Desa Radak diperlukan sebagai bagian dari penanganan air baku.
Menurut Abdullah, air yang tiba di IPA Parit Mayor akan diproses melalui instalasi pengolahan sebelum didistribusikan. Sistem di reservoir juga akan memisahkan air tawar dari Desa Radak yang diperuntukkan bagi distribusi langsung menggunakan galon, jerigen, dan nantinya mobil tangki.
Sementara itu, air yang dialirkan melalui jaringan perpipaan tetap melalui proses pengolahan dan dalam distribusinya masih bercampur dengan air baku Sungai Kapuas.
Untuk memastikan kualitas air tawar dari Desa Radak, Perumda sebelumnya melakukan survei di sejumlah titik lokasi pengambilan. Tim laboratorium kemudian kembali melakukan pemeriksaan sebelum air diangkut ke Pontianak.
“Pemeriksaan dari sisi salinitas, TDS, dan turbiditas. Termasuk juga pemeriksaan kandungan-kandungan lainnya seperti zat besi (Fe). Alhamdulillah, hasil pemeriksaannya menunjukkan kualitasnya layak, maka kita ambil airnya di titik tersebut,” ujar Abdullah.
Perumda memperkirakan proses pengolahan lima juta liter air membutuhkan waktu sekitar delapan hingga 10 jam. Pasokan berikutnya juga tengah dipersiapkan.
Setelah selesai membongkar muatan, tongkang pertama direncanakan kembali menuju Desa Radak untuk mengambil air tawar dengan volume yang kurang lebih sama.










