triggernetmedia.com – Sebanyak 94 korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan meninggal dunia saat berada di pengungsian hingga Selasa (15/9/2026). Data tersebut disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Menanggapi tingginya angka kematian di tempat pengungsian, DPR RI mendorong evaluasi menyeluruh terhadap kondisi penampungan serta penanganan warga terdampak bencana.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mengaku prihatin dengan jumlah korban meninggal di pengungsian. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan yang perlu segera ditelusuri dalam pengelolaan tempat penampungan.
“Kita tentu sangat prihatin ya, kalau melalui apa yang disampaikan oleh BNPB, artinya lebih banyak korban gempa yang meninggal di pengungsian dibandingkan yang meninggal akibat dari gempa itu sendiri. Sehingga harus ada audit ya terkait dengan kondisi di tempat pengungsian itu sendiri,” kata Charles di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Charles menilai tingginya angka kematian pascabencana perlu menjadi perhatian, khususnya terkait fasilitas dan layanan kesehatan bagi para pengungsi.
“Karena kalau misalkan dikatakan sekali lagi, lebih banyak orang yang meninggal di pengungsian dibandingkan karena akibat bencana itu sendiri, berarti sepertinya permasalahannya ada di pengelolaan pengungsian yang kurang baik ya, kurang ideal,” ujarnya.
Karena itu, Charles meminta kementerian dan lembaga terkait bersama pemerintah daerah segera mengidentifikasi persoalan di lokasi pengungsian dan melakukan pembenahan untuk mencegah bertambahnya korban jiwa.
“Saya berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, BNPB dan juga pemerintah daerah bisa mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di pengungsian pada saat ini agar di kemudian hari tidak bertambah jumlah korban meninggal, dan juga menjadi pembelajaran ketika terjadi bencana lagi,” tuturnya.










