triggernetmedia.com – Kebiasaan menghentikan konsumsi antibiotik sebelum pengobatan selesai dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari infeksi yang kambuh hingga munculnya resistensi antibiotik. Karena itu, masyarakat diimbau mengonsumsi antibiotik sesuai dosis dan lama penggunaan yang telah ditentukan tenaga kesehatan.
Imbauan tersebut disampaikan Apoteker RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Abdurrahman, saat memberikan edukasi kepada pengunjung rumah sakit, Rabu (1/7/2026).
Menurut Abdurrahman, antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Obat tersebut tidak efektif untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti influenza, batuk pilek akibat virus, maupun sebagian besar radang tenggorokan.
“Obat antibiotik harus dikonsumsi sampai habis sesuai dosis, jadwal, dan lama penggunaan yang telah ditentukan dokter,” kata Abdurrahman.
Ia menjelaskan, dokter menentukan dosis dan durasi pemberian antibiotik berdasarkan jenis infeksi, tingkat keparahan penyakit, kondisi pasien, serta bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi.
Menurut dia, gejala penyakit yang mulai membaik pada beberapa hari pertama pengobatan bukan berarti seluruh bakteri telah hilang. Sebagian bakteri masih dapat bertahan sehingga pengobatan perlu diteruskan hingga selesai.
Apabila penggunaan antibiotik dihentikan lebih awal, bakteri yang masih hidup berpotensi berkembang biak kembali sehingga infeksi dapat kambuh dan lebih sulit ditangani.
“Dalam beberapa kasus, pasien harus menjalani pengobatan yang lebih lama atau menggunakan antibiotik yang lebih kuat karena antibiotik sebelumnya sudah tidak lagi efektif,” ujarnya.
Abdurrahman mengatakan salah satu dampak paling serius dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah resistensi antibiotik. Kondisi tersebut terjadi ketika bakteri mengalami perubahan sehingga tidak lagi dapat dibunuh oleh antibiotik yang sebelumnya efektif.
Ia menambahkan, bakteri yang telah resisten juga dapat menular kepada orang lain sehingga meningkatkan risiko penyebaran infeksi yang lebih sulit diobati.
Menurut Abdurrahman, resistensi antibiotik membuat pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas. Akibatnya, pasien dapat memerlukan antibiotik yang lebih mahal, menjalani perawatan lebih lama di rumah sakit, hingga menghadapi risiko komplikasi yang lebih besar.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menggunakan antibiotik secara bijak dan hanya berdasarkan anjuran tenaga kesehatan.
“Penggunaan antibiotik yang bijak merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar, yaitu mempercepat kesembuhan, mencegah infeksi kambuh, mengurangi risiko resistensi antibiotik, serta menjaga agar antibiotik tetap efektif untuk mengobati berbagai infeksi bakteri di masa depan,” katanya.










