triggernetmedia.com – Pengamat ekonomi energi Fahmy Radhi menilai keputusan pemerintah menurunkan harga tiga jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, mulai 1 Juli 2026 sudah sejalan dengan penurunan harga minyak dunia. Namun, ia mempertanyakan keputusan pemerintah yang tetap mempertahankan harga Pertamax.
Menurut Fahmy, harga BBM nonsubsidi seharusnya mengikuti perkembangan harga keekonomian yang dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia. Dengan harga minyak yang kini turun mendekati Indonesian Crude Price (ICP) sekitar 70 dolar Amerika Serikat per barel, harga Pertamax dinilai seharusnya ikut disesuaikan.
“Kalau mengacu pada harga pasar, harga minyak dunia yang sudah turun mendekati ICP 70 dolar AS per barel, mestinya Pertamax juga kembali ke harga semula sekitar Rp11.200 per liter. Nah, kenapa itu tidak diturunkan,” kata Fahmy kepada Suara.com, Rabu (1/7/2026).
Fahmy menduga terdapat dua pertimbangan pemerintah. Pertama, mempertahankan harga Pertamax untuk menutup beban kompensasi ketika harga BBM tersebut tidak dinaikkan saat harga minyak dunia melonjak pada April 2026. Kedua, pemerintah kemungkinan menilai harga Rp16.250 per liter masih berada pada atau mendekati tingkat harga keekonomian.
Meski demikian, ia menilai kebijakan tersebut kurang tepat karena berpotensi menekan daya beli masyarakat kelas menengah yang menjadi pengguna utama Pertamax.
“Ini saya kira kebijakan yang tidak tepat karena dengan harga Rp16.250 itu sudah pasti menurunkan daya beli masyarakat menengah,” ujarnya.
Selain itu, Fahmy menilai selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite berpotensi mendorong sebagian konsumen beralih menggunakan BBM bersubsidi. Jika perpindahan berlangsung dalam jumlah besar, kuota Pertalite dikhawatirkan tidak mampu mengakomodasi peningkatan permintaan.
Di sisi lain, Fahmy menilai penurunan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak akan berdampak besar terhadap inflasi maupun biaya logistik. Menurut dia, ketiga jenis BBM tersebut bukan bahan bakar utama kendaraan angkutan barang sehingga pengaruhnya terhadap harga kebutuhan pokok relatif terbatas.
“Menurut saya, apa pun pertimbangannya ada urgensi untuk menurunkan harga Pertamax. Jumlah konsumennya cukup besar sehingga punya kontribusi terhadap inflasi, sekaligus dapat menaikkan kembali daya beli masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi nasional,” katanya.
Terkait kemungkinan perpindahan konsumen dari Pertamax ke BBM dengan kualitas lebih tinggi setelah harganya diturunkan, Fahmy menilai potensi tersebut relatif kecil.
“Kalau ada, tidak begitu signifikan karena konsumen Pertamax Turbo dan sejenisnya umumnya pemilik kendaraan yang memang membutuhkan spesifikasi BBM dengan kualitas lebih tinggi,” ujarnya.

