triggernetmedia.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp 180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 31 Mei 2026.
“ Sampai dengan Mei defisitnya 0,7 persen. Lima bulan pertama tahun ini 0,7 persen,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Defisit terjadi karena realisasi pendapatan negara lebih rendah dibandingkan belanja negara. Hingga akhir Mei 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp 1.185,0 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp 1.365,4 triliun.
Purbaya menjelaskan, pendapatan negara telah mencapai 37,6 persen dari target APBN atau tumbuh 19,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pendapatan tersebut berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp 834,4 triliun, kepabeanan dan cukai Rp 123,8 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 226,4 triliun, serta hibah Rp 400 miliar.
Di sisi lain, belanja negara telah terealisasi 35,5 persen dari pagu APBN atau meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.059,3 triliun dan transfer ke daerah (TKD) sebesar Rp 306,1 triliun.
Meski APBN mengalami defisit, pemerintah mencatat keseimbangan primer masih berada dalam posisi surplus sebesar Rp 58,6 triliun.
Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang tercatat surplus Rp 28 triliun. Keseimbangan primer yang positif menunjukkan pendapatan negara masih mampu menutupi seluruh belanja negara di luar pembayaran bunga utang.




