triggernetmedia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kenaikan tekanan inflasi pada Maret 2026 yang dipicu oleh lonjakan harga pangan dan energi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41 persen. Angka tersebut mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) naik menjadi 110,95 dari posisi Februari sebesar 110,57.
“Secara tahunan (year-on-year), inflasi tercatat sebesar 0,94 persen,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan sebesar 1,07 persen dan andil 0,32 persen.
Sejumlah komoditas pangan seperti ikan segar dan daging ayam ras masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,06 persen. Sementara beras memberikan andil 0,03 persen, diikuti telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi yang masing-masing menyumbang 0,02 persen.
Selain itu, sektor transportasi juga turut mendorong inflasi. Kenaikan harga bensin memberikan andil sebesar 0,04 persen, sedangkan tarif angkutan antarkota menyumbang 0,03 persen.
Ateng menjelaskan, komponen harga bergejolak (volatile food) menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi sebesar 1,58 persen dan andil 0,27 persen.
Meski demikian, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami deflasi dan menahan laju inflasi, seperti tarif angkutan udara dan emas perhiasan yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Sementara itu, inflasi inti tercatat relatif stabil di angka 0,13 persen dengan andil 0,08 persen, dipicu oleh kenaikan harga minyak goreng dan nasi dengan lauk.
Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administere

