triggernetmedia.com – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai langkah tersebut menjadi pilihan yang paling realistis di tengah tekanan global dan kondisi domestik yang relatif stabil.
“BI cenderung mempertimbangkan untuk menahan BI Rate di 4,75 persen,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, keputusan ini dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah yang masih sensitif terhadap sentimen eksternal.
Data terbaru menunjukkan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.954 per dolar AS per awal Maret 2026. Kondisi tersebut membuat ruang penurunan suku bunga menjadi terbatas.
Di sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memicu volatilitas pasar keuangan dan harga energi, sehingga stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama bank sentral.
Sementara itu, dari sisi domestik, kinerja ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat 5,11 persen, dengan aktivitas manufaktur yang tetap ekspansif.
Namun, inflasi Februari 2026 sebesar 4,76 persen secara tahunan dinilai masih dipengaruhi faktor sementara. Tanpa faktor tersebut, tekanan inflasi inti dinilai tetap terkendali.
Dengan kondisi tersebut, BI











