triggernetmedia.com – Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam menutup jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Pemerintah Iran menyatakan kesiapan menghentikan aktivitas distribusi minyak melalui jalur strategis tersebut sebagai respons terhadap tekanan militer yang meningkat di wilayahnya.
Juru bicara IRGC mengatakan Iran memiliki kendali penuh terhadap eskalasi konflik yang sedang berlangsung. Menurut dia, Teheran tidak akan mengizinkan kapal tanker membawa minyak keluar dari kawasan selama agresi militer masih terjadi.
Situasi semakin kompleks setelah Mojtaba Khamenei disebut sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran. Sejumlah pengamat menilai perubahan kepemimpinan ini dapat memperkuat sikap keras Teheran dalam menghadapi tekanan internasional.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merespons ancaman tersebut dengan pernyataan tegas. Ia mengatakan militer AS telah memberikan kerusakan signifikan dalam operasi yang berlangsung.
Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap meningkatkan kekuatan militer jika distribusi minyak global melalui Selat Hormuz terganggu.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan tersebut setiap hari.
Laporan dari Iran menyebutkan kerusakan pada sejumlah fasilitas kilang minyak di Teheran akibat serangan udara. Asap tebal dilaporkan terlihat di beberapa kawasan ibu kota tersebut.
Pada saat yang sama, militer Israel dilaporkan memperluas operasi militernya hingga ke wilayah Beirut di Lebanon.
Menurut laporan IRGC, sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangan udara dan rudal yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.
Dampak konflik ini juga terasa pada sektor energi global. Aktivitas kapal tanker di kawasan Teluk dilaporkan terhenti selama lebih dari satu pekan.
Sejumlah perusahaan energi bahkan menghentikan produksi sementara karena kapasitas penyimpanan minyak telah mencapai batas maksimal.
Situasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah jenis Brent hingga hampir 30 persen dalam waktu singkat, memicu kekhawatiran terhadap potensi inflasi global.











