triggernetmedia.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan anggaran negara masih mampu menahan tekanan jika harga minyak dunia melonjak hingga 92 dollar AS per barel akibat konflik di Teluk.
Purbaya mengatakan pemerintah telah melakukan simulasi berbagai skenario, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz terhadap impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1 juta barel per hari.
Menurut dia, kenaikan harga minyak memang berpotensi memperlebar defisit melalui peningkatan subsidi energi. Namun, di sisi lain, pemerintah juga memperoleh tambahan penerimaan dari lonjakan harga komoditas tersebut.
Untuk menjaga keseimbangan fiskal, pemerintah akan memperkuat pengumpulan pajak dan bea cukai agar tidak terjadi kebocoran penerimaan.
“Kalau kita bisa jaga domestic demand yang kontribusinya sekitar 90 persen ke ekonomi, kita masih bisa survive,” ujar Purbaya.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan harga minyak saat ini sudah berada di atas asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dollar AS per barel. Pemerintah masih menghitung dampak kenaikan tersebut terhadap subsidi energi dan keseimbangan fiskal.




