triggernetmedia.com – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan APBN dirancang dengan prinsip kehati-hatian dan fleksibilitas guna meredam dampak gejolak global, termasuk potensi lonjakan harga minyak dan tekanan nilai tukar akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut Juda, pemerintah menjaga defisit tetap di bawah 3 persen dari PDB, dengan rasio utang sekitar 40 persen masih jauh di bawah batas maksimal 60 persen sesuai undang-undang.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan 1 dollar AS pada Indonesian Crude Price dapat menambah defisit sekitar Rp 6,8 triliun. Pelemahan Rp 100 terhadap dolar AS berdampak Rp 0,8 triliun, sedangkan kenaikan yield 0,1 persen menambah beban sekitar Rp 1,9 triliun.
Namun, hasil stress test Kementerian Keuangan menunjukkan skenario yang dinilai realistis tetap menjaga defisit di bawah ambang batas.
Pemerintah juga melakukan diversifikasi pembiayaan melalui penerbitan global bonds dalam denominasi euro dan renminbi senilai 4,5 miliar dollar AS ekuivalen.
Di sisi investasi, peran Danantara diperkuat sebagai instrumen baru pembiayaan investasi di luar APBN. Sementara belanja negara difokuskan pada konsumsi pemerintah dan perlindungan kelompok menengah ke bawah.
Juda optimistis kombinasi disiplin fiskal, diversifikasi pembiayaan, dan penguatan investasi domestik mampu menjaga keseimbangan APBN di tengah ketidakpastian global.




