triggernetmedia.com – Sebuah kain merah yang berkibar di atas kubah Masjid Jamkaran menggema jauh melampaui kota suci Qom. Bendera yang dikenal dalam tradisi Syiah sebagai “bendera balas dendam” itu kembali mengirimkan pesan simbolik yang sarat makna sejarah, teologi, dan politik.
Dalam keyakinan Syiah, merah adalah warna darah para martir—tanda bahwa keadilan belum ditegakkan. Media internasional melaporkan, pengibaran bendera tersebut terjadi setelah serangan udara di Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Tulisan “Ya Latharat al-Husayn” yang kerap tertera di bendera itu bukan sekadar slogan. Ia berakar pada tragedi Karbala abad ke-7, saat Husayn ibn Ali gugur melawan kekuasaan yang dianggap zalim. Sejak saat itu, kalimat tersebut hidup sebagai seruan moral untuk menuntut keadilan atas darah yang tertumpah.
Di Iran kontemporer, simbol ini berulang kali muncul pada momen krisis. Januari 2020 menjadi salah satu contohnya, ketika bendera merah dikibarkan di tempat yang sama setelah Jenderal Qasem Soleimani tewas akibat serangan drone Amerika Serikat. Saat itu, simbol tersebut menjelma menjadi ekspresi kemarahan nasional.
Kini, pengibaran bendera merah kembali terjadi di tengah duka dan amarah kolektif. Akun resmi Masjid Jamkaran menyebutnya sebagai respons atas kejahatan “Amerika dan Zionis”, menegaskan bahwa simbol religius itu juga berfungsi sebagai pesan politik.
Meski tidak secara otomatis berarti deklarasi perang, bendera merah menyampaikan satu pesan jelas: keadilan dianggap belum tercapai. Dalam lanskap geopolitik Timur Tengah yang telah lama tegang, simbol ini menjadi peringatan bahwa kemarahan yang bersumber dari sejarah dan keyakinan religius dapat bertransformasi menjadi tekanan politik yang mengguncang kawasan.
Pada akhirnya, bendera merah di Jamkaran bukan sekadar visual dramatis di media sosial. Ia adalah gema panjang dari Karbala—gema yang kini kembali terdengar di panggung geopolitik dunia.




