triggernetmedia.com – Ancaman kejahatan siber yang kian kompleks mendorong perusahaan keamanan siber global melirik Indonesia sebagai pasar strategis. WhizHack Technologies resmi memulai operasinya di Indonesia dengan menyoroti rapuhnya batas antara sistem teknologi informasi dan teknologi operasional.
Langkah tersebut ditandai melalui diskusi tertutup bersama CIO Association Indonesia Chapter yang melibatkan para CIO, CISO, dan pengambil keputusan utama di sektor teknologi. Diskusi itu memetakan risiko keamanan siber yang muncul seiring pesatnya digitalisasi industri dan integrasi sistem berbasis data.
Co-Founder dan Managing Director WhizHack Technologies, Abhijit Das, menegaskan bahwa pendekatan simbolik tidak cukup untuk menghadapi ancaman siber yang berkembang cepat.
“Kami tidak ingin sekadar hadir secara formal. Kehadiran kami di Indonesia dimulai dengan dialog substantif mengenai risiko dan ketahanan siber bersama para pemimpin industri,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
WhizHack menyoroti konvergensi IT dan OT sebagai titik rawan baru. Menurut perusahaan tersebut, pemisahan sistem IT dan OT yang selama ini diterapkan justru berpotensi menciptakan celah keamanan, terutama pada sektor industri, manufaktur, dan infrastruktur kritikal.
Untuk merespons risiko tersebut, WhizHack memperkenalkan ZeroHack XDR Suite, platform keamanan siber terpadu yang dirancang menggantikan pendekatan keamanan yang terfragmentasi. Platform ini diklaim mampu memberikan visibilitas dan perlindungan menyeluruh lintas sektor, mulai dari instansi pemerintah hingga operasi industri berisiko tinggi.
Selain aspek teknologi, WhizHack menilai lemahnya kesiapan sumber daya manusia masih menjadi persoalan utama keamanan siber di Indonesia. Perusahaan ini mendorong penerapan cyber range-based learning sebagai metode pelatihan berbasis simulasi guna meningkatkan ketahanan organisasi terhadap serangan siber.
“Ketahanan siber tidak hanya soal alat, tetapi tentang kesiapan manusia dalam menghadapi skenario serangan nyata,” kata Abhijit.




