triggernetmedia.com – Warga Kota Pontianak merekam pengalaman hidup mereka yang terus dibayangi banjir rob melalui program Photovoice yang digelar Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kamis, 15 Januari 2026. Program ini membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan kisah banjir dari sudut pandang mereka sendiri, bukan semata melalui angka dan peta risiko.
Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, mengatakan pendekatan Photovoice menempatkan masyarakat sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar objek penelitian.
“Banjir selama ini sering dipahami dari sudut pandang teknis. Padahal, warga yang hidup dengan banjir setiap hari punya pengalaman yang penting untuk didengar dalam kebijakan publik,” kata Andi.
Sebanyak 30 warga dari delapan kawasan rawan banjir di Pontianak dilibatkan sejak Oktober 2025. Mereka memotret dampak banjir terhadap rumah, akses jalan, aktivitas ekonomi, hingga praktik adaptasi yang dilakukan keluarga sehari-hari.
Pontianak, menurut Andi, menghadapi risiko banjir yang kian meningkat akibat kombinasi faktor alam dan pembangunan. Kota ini berada di dataran rendah dengan tanah gambut pesisir, sementara laju urbanisasi terus mengurangi ruang resapan air.
Ia juga menyinggung banjir besar pada Desember 2025, ketika air laut mencapai hampir dua meter dan menggenangi kawasan permukiman.
“Itu bukan lagi banjir biasa. Ini peringatan bahwa risiko ke depan akan semakin berat jika tidak ada perubahan kebijakan,” ujarnya.
Kepala Bapperida Kota Pontianak, Sidig Handanu, menyebut banjir telah masuk dalam isu strategis pembangunan daerah. Namun, ia mengakui penanganan banjir tidak dapat dilakukan oleh pemerintah kota saja.
“Perubahan tata guna lahan di wilayah hulu dan daerah sekitar Pontianak sangat berpengaruh. Tanpa kerja sama lintas wilayah, penanganan banjir akan selalu parsial,” katanya.
Prof. Stefan Steiner dari Universitas Waterloo menilai pendekatan partisipatif seperti Photovoice penting untuk menjembatani sains dan kebijakan.
“Model iklim dan peta risiko tidak cukup menjelaskan bagaimana banjir memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi warga. Foto dan cerita membuat risiko itu lebih nyata dan sulit diabaikan,” ujarnya.
Selain pameran foto, hasil Photovoice akan digunakan sebagai bahan diskusi kebijakan, pemetaan risiko, serta penguatan sistem peringatan dini. Program ini juga terhubung dengan studi aktuaria untuk menghitung potensi kerugian ekonomi akibat banjir di Pontianak.
Bagi Yayasan Kolase, pameran ini bukan akhir, melainkan awal percakapan tentang bagaimana kota ini beradaptasi dengan perubahan iklim tanpa meninggalkan warganya yang paling rentan.




