triggernetmedia.com – Lantai bursa komoditas global sedang menunjukkan wajah yang paradoks. Pada perdagangan Selasa (30/12/2025), harga minyak mentah dunia memilih “tiarap” tipis setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 2 persen. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi angka, melainkan cerminan dari kecemasan pasar yang saling berkelindan antara ambruknya harga logam mulia dan bara api di perbatasan Rusia-Ukraina.
Efek Domino dari Kilau yang Memudar
Pelemahan ini dipicu oleh fenomena yang disebut para analis sebagai efek domino. Mengutip data Investing.com, Brent untuk kontrak Februari terkoreksi 21 sen ke level 61,73 dolar AS per barel. Setali tiga uang, West Texas Intermediate (WTI) AS juga turun 0,3 persen menjadi 57,88 dolar AS.
Ed Meir, analis dari Marex, melihat ada kaitan erat antara lesunya minyak dengan aksi jual besar-besaran di pasar logam mulia sehari sebelumnya. “Penjualan yang Anda lihat sekarang adalah dampak lanjutan dari koreksi signifikan pada logam mulia. Ini memukul hampir semua komoditas,” ujar Meir. Aksi ambil untung (profit taking) pada perak dan platina rupanya telah menarik turun kepercayaan diri pasar komoditas secara keseluruhan.
Bayang-bayang Rudal dan Nuklir
Meski harga sedang melandai, fundamental pasar minyak sebenarnya sedang berdiri di atas tumpukan dinamika yang sangat rapuh. Geopolitik menjadi variabel yang tak terduga:
-
Front Timur: Moskow dan Kyiv terjebak dalam perang retorika baru. Tuduhan sabotase terhadap kediaman Vladimir Putin memicu ketakutan bahwa pasokan energi dari Rusia sewaktu-waktu bisa macet total.
-
Tekanan Washington: Presiden AS Donald Trump kembali menebar ancaman militer terhadap Iran terkait program nuklirnya. Di saat yang sama, peringatan keras Trump terhadap Hamas menambah lapisan ketidakpastian di Timur Tengah, kawasan jantung minyak dunia.
Melimpah di Hulu, Lesu di Hilir
Di balik drama politik tersebut, realitas pasokan justru menunjukkan arah yang berbeda. Arab Saudi, sang raksasa eksportir, diprediksi akan menyunat harga jual Arab Light ke Asia pada Februari mendatang. Langkah ini diambil karena stok di pasar global melimpah, jauh melampaui daya serap permintaan.
Ed Meir memperingatkan bahwa tren penurunan ini kemungkinan besar akan berlanjut hingga awal tahun depan. “Arah harga kemungkinan akan menurun memasuki kuartal pertama 2026 karena adanya kelebihan pasokan di pasar,” pungkasnya. Dunia kini sedang menunggu: apakah limpahan pasokan ini sanggup meredam ledakan harga jika konflik bersenjata benar-benar pecah?




