triggernetmedia.com – Industri media di Indonesia tengah berada pada periode paling menantang dalam beberapa tahun terakhir. Model bisnis lama tak lagi memadai, pendapatan iklan terus tergerus, sementara biaya produksi jurnalisme berkualitas meningkat. Pada saat yang sama, platform digital global menguasai pasar periklanan dan disinformasi menyebar cepat, menyebabkan kepercayaan publik pada media semakin melemah. Kondisi ini menuntut media beradaptasi secara menyeluruh.
Dalam Media Sustainability Forum 2025 bertema “Memperkuat Daya Hidup Media dalam Ekosistem Digital” yang digelar Rabu (3/12/2025), sejumlah pimpinan media memaparkan langkah strategis mereka dalam menghadapi perubahan tersebut.
Bisnis Media Tidak Lagi Ditopang Jurnalisme Semata
Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, menyampaikan bahwa tekanan industri kian berat dalam lima tahun terakhir. Ia menyebut berbagai strategi bisnis telah dicoba, namun tidak semuanya memberi hasil optimal.
“Hari ini jurnalisme tidak bisa lagi membiayai bisnis media,” ujarnya.
Pada 2019–2020, Suara.com sempat melakukan ekspansi besar dengan menambah lebih dari 200 pegawai. Namun mempertahankan kapasitas tersebut di tengah perubahan lanskap digital menjadi tantangan tersendiri.
Suwarjono mengatakan media kini tidak bisa dipandang hanya sebagai penyedia konten, melainkan bagian dari ekosistem yang lebih luas mencakup teknologi, komunitas, dan media sosial. Suara.com mengembangkan struktur kerja lebih adaptif, memecah tim dalam unit-unit kecil dengan target spesifik, serta mendorong peningkatan direct traffic dan kredibilitas sebagai pembeda utama.
Integrasi Teknologi Tanpa Mengabaikan Etika Jurnalistik
Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, Maria Yuliana Benyamin, mengemukakan bahwa penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari pekerjaan redaksi untuk meningkatkan efisiensi dan distribusi konten.
Bisnis Indonesia memperluas kanal distribusi melalui YouTube, podcast, dan newsletter, serta mengembangkan sumber pendapatan non-iklan seperti paid content, data, dan program aktivasi.
“Digital mindset penting, tetapi prinsip jurnalistik tetap harus dijaga,” tegasnya.
Standar Mutu Konten Jadi Prioritas
CEO KG Media, Andy Budiman Kumala, menilai peningkatan kapasitas jurnalis sangat menentukan daya saing media. Ia menekankan pentingnya sertifikasi dan pengembangan wartawan spesialis guna memastikan kualitas konten. KG Media menerapkan Content Quality Index sebagai instrumen evaluasi mutu redaksional.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rahmadin Ismail, meneguhkan komitmen redaksinya terhadap verifikasi sebagai basis produksi berita. Dengan dukungan peneliti dan panel ahli, Tirto menempatkan cek fakta sebagai produk inti yang menjaga integritas redaksi.
Membangun Kepercayaan di Tengah Disrupsi
Forum tersebut merangkum tantangan utama yang dihadapi industri media: tekanan bisnis, dominasi platform digital global, dan arus disinformasi yang mengikis kepercayaan publik. Di tengah perubahan yang cepat, seluruh pemimpin media sepakat bahwa inovasi harus dijalankan tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik yaitu menyajikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya.




