triggernetmedia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi Indonesia kembali mencatatkan kenaikan pada September 2025, mengakhiri tren deflasi yang terjadi pada bulan sebelumnya. Data BPS menunjukkan inflasi bulanan (month-to-month/MoM) naik 0,21%, setelah pada Agustus sempat mengalami deflasi.
Kenaikan ini mendorong laju inflasi tahunan (year-on-year/YoY) mencapai 2,65%, menjadi laju tercepat sejak Mei 2024. Namun, di sisi lain, inflasi inti — di luar harga emas dan komponen bergejolak — justru melambat tipis ke 1,37% YoY, mengindikasikan bahwa permintaan domestik masih lemah, terutama di kalangan rumah tangga berpenghasilan rendah.
“Perlambatan inflasi inti mencerminkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, meskipun tekanan harga dari komponen non-inti meningkat,” tulis laporan BPS.
Tekanan Harga Pangan Mereda, Harga Minyak Dunia Turun
Memasuki Oktober 2025, tekanan inflasi dari sektor pangan diperkirakan mulai mereda. Harga komoditas utama seperti beras dan minyak goreng terpantau stabil, sementara harga ayam broiler justru turun signifikan sebesar 7,7% MoM.
Dari sisi global, kabar baik datang dari pasar energi. Harga minyak dunia turun sekitar 6% MoM menjadi US$64 per barel, setelah kelompok produsen OPEC+ mengisyaratkan peningkatan produksi. Penurunan ini diperkirakan akan menekan biaya produksi dan logistik di dalam negeri.
Harga Komoditas Dunia Berfluktuasi: Kakao Turun, Gula Naik
Tren penurunan harga juga terjadi pada komoditas lunak (soft commodities). Harga kakao anjlok 17% MoM seiring membaiknya hasil panen di Pantai Gading, produsen utama dunia. Kondisi ini memberi dampak positif bagi emiten makanan dan minuman seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR).
Sebaliknya, harga gula naik 3,9%, dipicu penurunan kualitas tebu di Brasil. Pergerakan harga ini turut memengaruhi margin perusahaan di sektor konsumsi.
Sektor Konsumsi Pimpin Kenaikan IHSG September 2025
Di pasar saham, sektor barang konsumsi (consumer staples) mencatat kinerja cemerlang pada September 2025. Sektor ini naik 4,2% MoM, melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan.
Kenaikan dipimpin oleh reli saham rokok setelah pemerintah memastikan tidak ada kenaikan tarif cukai untuk tahun 2026. Kebijakan tersebut memicu lonjakan harga saham dua emiten besar, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM), yang masing-masing melesat antara 55% hingga 68% MoM.
MYOR dan CMRY Tetap Tumbuh, Ekspor Melambat
Dari sisi kinerja korporasi, MYOR melaporkan rebound pada penjualan domestik selama September, mendorong pertumbuhan high single-digit pada kuartal III/2025. Namun, permintaan ekspor dari Vietnam dan Tiongkok menunjukkan perlambatan, mengindikasikan tantangan pertumbuhan di pasar luar negeri.
Sementara itu, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) terus mempertahankan momentum positif berkat meningkatnya permintaan produk olahan susu serta ekspansi jaringan distribusi.
Sebaliknya, sektor ritel masih tertinggal, terutama karena pelemahan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPA).
Outlook: Sektor Konsumsi Diprediksi Pulih Jelang Akhir Tahun
Meski daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, analis pasar tetap optimistis terhadap prospek sektor konsumsi di kuartal IV/2025. Belanja rumah tangga diperkirakan meningkat secara bertahap, didukung oleh stimulus fiskal pemerintah dan faktor musiman akhir tahun.
Beberapa saham yang direkomendasikan analis sebagai top picks menjelang akhir tahun antara lain:
-
UNVR (Unilever Indonesia) dan CMRY (Cimory) untuk sektor barang konsumsi,
-
MAPI (Mitra Adiperkasa) untuk sektor ritel yang berpotensi rebound.
Meta Description (untuk SEO)
Inflasi Indonesia naik 0,21% pada September 2025 menurut BPS. Harga pangan stabil, minyak dunia turun, sektor konsumsi dan saham rokok memimpin penguatan IHSG.




