banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600
KesehatanNasionalSorotan

Pengidap Autoimun Pada Usus di Indonesia Semakin Meningkat

×

Pengidap Autoimun Pada Usus di Indonesia Semakin Meningkat

Sebarkan artikel ini
Penyakit autoimun. (Shutterstock)

triggernetmedia.com – Pengidap penyakit celiac, atau penyakit autoimun yang mempengaruhi usus kecil, angkanya ternyata makin meningkat di Indonesia. Hal tersebut berdasarkam temuan studi dari Fakuktas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bersama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Penyakit celiac sendiri bisa dipicu akibat konsumsi makanan yang mengandung gluten, seperti roti, gandum, pasta, dan mie instan secara berlebihan.

Penyakit tersebut dicatat banyak banyak terjadi pada individu dengan kerentanan genetik.

Dalam beberapa dekade terakhir, prevalensi atau angka kejadian penyakit ini meningkat secara global dari 0,03% menjadi 0,7% pada populasi.

Akan tetapi, data mengenai prevalensi penyakit celiac di Asia Pasifik, khususnya Indonesia, masih sangat terbatas.

Namun, dari studi terbaru yang dipimpin oleh Dekan FKUI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD, terungkap data penting tentang prevalensi penyakit celiac pada pasien berisiko tinggi dengan gangguan gastrointestinal fungsional atau irritable bowel syndrome (IBS) di Indonesia.

“Penyakit celiac, yang sebelumnya dianggap jarang, kini menunjukkan angka prevalensi yang signifikan di kalangan populasi berisiko tinggi,” ungkap prof Ari, Rabu (10/7/2024).

Populasi berisiko tinggi yang dimaksud merupakan pasien yang juga mengidap diabetes melitus tipe 1, penyakit tiroid autoimun, peningkatan enzim hati tanpa sebab yang jelas, gejala gangguan penyerapan makanan dengan diare kronik, atau anemia kekurangan besi.

Hasil penelitian dari FKUI-RSCM itu menunjukkan bahwa 8 dari 283 pasien yang jadi koresponden (2,83 persen) secara serologis terkonfirmasi mengidap penyakit celiac.

Analisis bivariat mengungkapkan bahwa variabel usia 40-60 tahun, keluhan sulit BAB, dan riwayat penyakit autoimun memiliki hubungan signifikan (p < 0,05) dengan penyakit celiac.

Namun, pada analisis multivariat, hanya riwayat penyakit autoimun yang tetap menunjukkan hubungan signifikan (p < 0,05) dengan penyakit ini.

Sehingga dapat ditafsirkan berdasarkan hasil ini bahwa pasien-pasien IBS yang memiliki karakteristik usia 40-60 tahun, keluhan sulit BAB, dan terutama riwayat penyakit autoimun sebelumnya perlu lebih waspada kemungkinan memiliki penyakit celiac.

“Meskipun prevalensi secara keseluruhan tampak rendah, namun angka 2,83 persen pada populasi berisiko tinggi di RSCM tergolong tinggi jika dibandingkan dengan studi serupa sebelumnya yang menunjukkan angka 0,61 persen. Hal ini memperlihatkan perlunya perhatian lebih dalam deteksi dini dan diagnosis penyakit celiac,” pesan Prof. Ari.

Penelitian karya anak bangsa itu telah dipublikasikan di Jurnal PLoS ONE dengan judul ‘Prevalence and factors associated with celiac disease in high-risk patients with functional gastrointestinal disorders’ pada Juni 2024.

Pasien dengan diagnosis sindrom usus iritabel (IBS) dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki gejala yang mirip dengan pasien yang sudah diketahui terdiagnosis penyakit celiac.

Pasien-pasien itu dipilih berdasarkan kriteria risiko tinggi dan memberikan persetujuan tertulis untuk berpartisipasi dalam studi tersebut.

Mereka diminta untuk mengisi kuesioner terkait penyakit celiac, kemudian dilakukan pengukuran antropometri dan pemeriksaan serologis dengan metode ELISA untuk mendeteksi antibodi IgA anti-transglutaminase jaringan (anti-TTG) dan IgG anti-peptida deaminasi gliadin (anti-DGP) sebagai pemeriksaan penunjang untuk penyakit celiac.

Sumber: Suara.com

 

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *