triggernetmedia.com – Stunting masih menjadi salah satu permasalahan anak Indonesia yang krusial. Stunting adalah kondisi gizi kronis yang terjadi karena kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu lama, sehingga menyebabkan pertumbuhan anak terganggu.
Masalah stunting penting untuk diselesaikan karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak. Selain itu, fenomena stunting di Indonesia juga dapat menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045. Oleh karena itu, kondisi tersebut harus segera dituntaskan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, TP PKK Kota Pontianak berkomitmen untuk terus mendukung Pemkot Pontianak menjalankan program Peningkatan Upaya Promotif dan Preventif Dalam Rangka Mewujudkan Generasi Sehat Bebas Stunting, dan menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
“Tentu saja TP PKK Kota Pontianak memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam implementasi program-program prioritas Pemkot di sektor kesehatan, termasuk program pengentasan stunting. Jadi harus kita dukung penuh bersama lintas sektoral dan berbagai pihak yang terkait. Apalagi saat ini tren dan target prealensi stunting di Kota Pontianak menurutn signifikan 16,7 persen tahun ini,” kata Pj Ketua TP PKK Kota Pontianak, Anita Sofian, Rabu (3/7) kepada triggernetmedia.com.
“Stunting telah menjadi isu kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus di Kota Pontianak dan Indonesia umumnya. Perlawanan terhadap stunting memerlukan pendekatan dan intervensi sistematis terhadap ekosistem, selain pemenuhan gizi yang optimal. Upaya mengentaskan stunting di Indonesia bukan hanya masalah fisik, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kesejahteraan bangsa,” ujar Anita menambahkan.
Ia menjelaskan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting menyebabkan hambatan perkembangan kognitif dan motorik, penurunan kapasitas intelektual, dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular di masa depan. Menurut estimasi UNICEF, prevalensi stunting di Indonesia sangat tinggi, yaitu 31,8% pada tahun 2021. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia dan Afrika. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024.
“Stunting itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain asupan gizi, status kesehatan, lingkungan sosial, lingkungan kesehatan, lingkungan permukiman, pendapatan, kesenjangan ekonomi, sistem pangan, jaminan sosial, sistem kesehatan, pembangunan pertanian, dan pemberdayaan perempuan. Oleh karena itu, stunting sudah menjadi isu kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus. Disinilah pentingnya TP PKK ikut ambil peran melakukan perlawanan terhadap stunting. dan kita perlu melakukan pendekatan sistematis terhadap ekosistem, selain pemenuhan gizi yang optimal,” kata Anita.
Lewat berbagai program edukasi kesehatan di masyarakat, TP PKK Kota Pontianak terus aktif melakukan giat Pemberdayaan Posyandu melalui pengadaan bahan makanan sehat dan peralatan kesehatan, pengecekan kesehatan gratis, mendukung program Pemkot dan dinas terkait melakukan pembangunan infrastruktur kesehatan seperti pembangunan Unit Kesehatan Sekolah, edukasi perilaku hidup sehat dan budaya cuci tangan di beberapa SD sekitar, edukasi tentang pemenuhan gizi pada anak, edukasi keterampilan orangtua mengasuh anak (parenting), dan edukasi seks dan kesehatan reproduksi dengan target siswa/i SMP untuk menekan angka pernikahan usia remaja, termasuk memberikan vitamin penambah darah.
“Edukasi seks dan reproduksi bagi remaja juga dapat memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab tentang seksualitas, kesehatan reproduksi, dan perencanaan keluarga. Pernikahan dini pada remaja dapat meningkatkan risiko seperti komplikasi kehamilan dan persalinan, kematian ibu dan bayi, infeksi menular seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, dan stunting pada anak juga penting kita sampaikan lewat ruang edukasi dan interaktif,” ujar Anita.
Anita menilai, sejauh ini sinergitas Pemkot Pontianak dalam menurunkan angka stunting terbilang sukses secara signifikan. Keberhasilan tersebut menurutnya perlu terus diperkuat dan evaluasi lebih mantap.
“Program pengentasan stunting ini menjadi berbeda karena kegiatan-kegiatan intervensi yang dilakukan lebih dari sekadar pemberian suplemen gizi dan nutrisi, namun sudah menargetkan hal-hal yang sifatnya pencegahan di hulu seperti penyuluhan kesehatan ibu dan anak, perbaikan sanitasi lingkungan, pemberdayaan keluarga, dan terutama edukasi dini pada remaja, sehingga kualitas suatu keluarga benar-benar tampak nyata menjadi keluarga sejahtera,” jelas Anita.
“Melaluii program TP PKK Kota Pontianak komitmen kita tentunya akan semaksimal mungkin membantu Pemkot untuk mensejahterakan masyarakatnya bersama lintas sektoral guna memenuhi kebutuhan gizi yang baik, seperti dengan memberikan suplemen, makanan bergizi, dan konsultasi kesehatan. Edukasi yang dilakukan juga memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup. Dan kami berharap program-program kita ini terus dilanjutkan di tahun-tahun mendatang untuk memberikan dampak positif bagi keluarga dan generasi mendatang, sehingga apa yang telah dicapai oleh program ini dapat berpengaruh pada prestasi dan potensi anak-anak,” timpalnya memungkas.











