triggernetmedia.com – Pemerintah Kota Pontianak mengapresiasi pencapaian signifikan dalam penurunan angka stunting.
Menurut Pj Wali Kota Pontianak, Ani Sofian, kolaborasi lintas sektor telah menghasilkan penurunan angka stunting yang menggembirakan dan membanggakan.
“Berkat kerjasama lintas sektoral yang melibatkan berbagai pihak mulai dari DP2KBP3A, Dinkes, TNI, Polri, swasta, perguruan tinggi, hingga media massa, angka stunting mengalami penurunan yang signifikan,” ungkap Ani Sofian, Kamis (20/6).
“Seebelumnya, angka stunting di Kota Pontianak pada tahun 2023 mencapai 19,7 persen. Namun di tahun 2024 ini stunting berhasil ditekan hingga 16,7 persen,” kata Ani Sofian menambahkan.
Sementara itu, Koordinator Bidang Pelayanan Intervensi Spesifik dan Sensitif TPPS Kota Pontianak, yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko menjelaskan fokus ke depan akan difokuskan pada penimbangan dan imunisasi lengkap bagi balita.
Dikatakan, terdapat 13 intervensi spesifik yang sedang dilakukan dalam upaya menurunkan angka stunting di Kota Pontianak.
“Kami bekerja sama dengan berbagai OPD terkait seperti Dinas Sosial, DP2KBP3A, DPUPR, dan DPPP untuk mengoptimalkan fungsi kami,” ujarnya.
Tidak hanya itu, sambung Saptiko, Pemkot Pontianak juga akan memberikan pendampingan yang serius kepada keluarga yang berisiko mengalami stunting.
Selain itu, langkah pengawasan terhadap air dan sanitasi di lingkungan masyarakat yang teridentifikasi mengalami stunting juga akan ditingkatkan.
“Pemkot Pontianak juga akan memberikan bantuan kepada keluarga berisiko stunting, termasuk dalam hal konsumsi ikan,” kata Saptiko.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Kependudukan DP2KBP3A Kota Pontianak, Ita Parmita menyatakan, pihaknya selaku dinas terkait sekaligus sekretariat Tim Percepatan Penurunan Stunting optimis bersama Pemkot Pontianak dan stakeholder dapat menekan stunting hingga 14 persen sebagaimana ditargetkan Pemerintah Pusat pada tahun 2025 mendatang.
“Stunting merupakan permasahalah nasional, secara gelobal generasi muda tentu dikhawatirkan bagaimana kedepannya mereka dalam bersaing di masa mendatang. Karena itu kolaborasi diperlukan intervensi berbagai pihak guna meningkatkan kualitas pertumbuhan generasi muda sejak dini. Disamping itu tentu saja peran kampung keluarga berkualitas dalam percepatan penurunan angka stunting menjadi salah satu kunci pencapaian penurunan stunting,” ungkap Ita Parmita belum lama ini dalam dialog publik di TVRI Stasiun Kalimantan Barat, Rabu (19/6).
Ita Parmita menyebut, dalam Inpres Nomor 3 tahun 2022 dibentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting, peran Kampung KB perlu terus ditingkatkan agar pembangunan merata.
“Dengan Kapung KB tentu saja akan ada intervensi dari pemerintah khususnya dari dinas terkait dalam menopang kualitas pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur, termasuk peran aktif tenaga penyuluh KB di tingkat kecamatan sebagai mitra dinas terkait di Kota Pontianak khususnya, dapat terus menekan stunting secara signifikan,” jelas Ita Parmita.
Ita kembali menjelaskan, pada tahun 2020 Kemendagri mengganti Kampung Keluarga Berencana diganti menjadi Kampung Keluarga Berkualitas, guna menjangkau semua aspek dengan tujuan utama agar seluruh keluarga di Indonesia kondisinya semakin baik dan berkualitas, dalam pengertian pertumbuhan anak-anaknya maju, cerdas, sehat dan tidak stunting.
“Jadi sekarang ini sebetulnya kita tidak cuma berupaya menekan stunting, desiminasi dan sebagainya. Tetapi bagaimana tidanklanjut kedepannya, tidak hanya memberi makanan bergizi, tapi bagaiman kita dapat tersu mendorong pola pikir mereka lebih baik, lebih maju dan sejahtera,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Kependudukan DP2KBP3A Kota Pontianak ini.




