triggernetmedia.com – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie, bersama dengan pakar kesehatan dan pihak berwenang dalam bidang kesehatan, mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap tingginya angka penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kota Pontianak.
Dalam upaya menekan angka penularan TBC, langkah serius perlu diambil, salah satunya dengan pembentukan Tim Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Kota Pontianak, di Aula Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak Jalan Ahmad Yani pada Kamis (7/9).
Menurut Yanieta Arbiastutie, TBC telah menjadi masalah serius di Kota Pontianak, memengaruhi berbagai kalangan, dari menengah ke bawah hingga menengah ke atas. Sayangnya, banyak orang yang terinfeksi TBC tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Dalam upaya mencapai target pemerintah pusat untuk mengurangi angka kematian akibat TBC sebesar 80-90 persen pada tahun 2030, Yanieta berharap bahwa melalui pembentukan Tim PTP yang melibatkan lintas sektor dan diprakarsai oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak, penurunan kasus TBC bisa dicapai, bahkan hingga mencapai angka nol.
“TP PKK siap bekerja sama untuk menjadi agen pencegah TBC di masyarakat,” ungkapnya, mengajak pemangku kebijakan dan masyarakat untuk bersatu dalam upaya mengurangi penyebaran penyakit ini.
Data dari tahun 2022 mencatat bahwa terdapat sekitar 9 ribu orang yang terinfeksi TBC di Kota Pontianak, sebuah angka yang memicu keprihatinan serius. Yanieta juga mengajak individu yang merasakan gejala TBC untuk segera memeriksakan diri mereka. “Periksakan diri, jangan sampai disepelekan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Pontianak, Saptiko, menyoroti fakta bahwa penyakit TBC telah ada sejak tahun 1884.
Bakteri TBC, yang sangat mudah menular melalui udara, menjadi tantangan serius dalam penanggulangan penyakit ini.
Dalam upaya menekan penyebaran penyakit menular lainnya seperti HIV, Dinkes Kota Pontianak telah memetakan langkah-langkah penting untuk tahun 2023.
Saptiko juga mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan masker ketika berada di tempat-tempat yang berpotensi terkontaminasi, seperti pasar dan tempat-tempat keramaian.
Gejala yang harus diwaspadai adalah batuk berdarah dan batuk berdahak yang berlangsung lebih dari dua minggu.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie, bersama dengan pakar kesehatan dan pihak berwenang dalam bidang kesehatan, mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap tingginya angka penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kota Pontianak.
Dalam upaya menekan angka penularan TBC, langkah serius perlu diambil, salah satunya dengan pembentukan Tim Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Kota Pontianak.
Menurut Yanieta Arbiastutie, TBC telah menjadi masalah serius di Kota Pontianak, memengaruhi berbagai kalangan, dari menengah ke bawah hingga menengah ke atas.
Sayangnya, banyak orang yang terinfeksi TBC tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Dalam upaya mencapai target pemerintah pusat untuk mengurangi angka kematian akibat TBC sebesar 80-90 persen pada tahun 2030, Yanieta berharap bahwa melalui pembentukan Tim PTP yang melibatkan lintas sektor dan diprakarsai oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak, penurunan kasus TBC bisa dicapai, bahkan hingga mencapai angka nol.
“TP PKK siap bekerja sama untuk menjadi agen pencegah TBC di masyarakat,” ungkapnya, mengajak pemangku kebijakan dan masyarakat untuk bersatu dalam upaya mengurangi penyebaran penyakit ini.
Data dari tahun 2022 mencatat bahwa terdapat sekitar 9 ribu orang yang terinfeksi TBC di Kota Pontianak, sebuah angka yang memicu keprihatinan serius. Yanieta juga mengajak individu yang merasakan gejala TBC untuk segera memeriksakan diri mereka. “Periksakan diri, jangan sampai disepelekan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Pontianak, Saptiko, menyoroti fakta bahwa penyakit TBC telah ada sejak tahun 1884. Bakteri TBC, yang sangat mudah menular melalui udara, menjadi tantangan serius dalam penanggulangan penyakit ini. Dalam upaya menekan penyebaran penyakit menular lainnya seperti HIV, Dinkes Kota Pontianak telah memetakan langkah-langkah penting untuk tahun 2023.
Saptiko juga mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan masker ketika berada di tempat-tempat yang berpotensi terkontaminasi, seperti pasar dan tempat-tempat keramaian. Gejala yang harus diwaspadai adalah batuk berdarah dan batuk berdahak yang berlangsung lebih dari dua minggu.











