triggernetmedia.com – Sanggar Adau Benaung, Kabupaten Sekadau jadi yang terbaik dalam Festival Rentak Kapuas 2023 yang diadakan oleh Upt. Museum Negeri Kalimantan Barat, Sabtu (12/8).
Tim kesenian yang terdiri 23 orang, dengan 8 penari, 8 pemusik 5 crew asuhan Ibu Yuspia Basilisa dan Ibu Lili Paris berhasil mendapatkan 3 penghargaan, yaitu Penyaji Terbaik 1, Penata Musik Terbaik dan Penata Tari Terbaik dari total 4 penghargaan yang diperebutkan.
Koreografer Budi, dan Albertus Benny, yang berdomisili di Pontianak, bersama dengan timnya, bekerja dengan intensitas tinggi selama lebih dari 2 minggu untuk menciptakan karya tari yang begitu memukau ini.
Proses intensif dimulai dari pagi hingga malam hari, dimana mereka bekerja bersama-sama dengan Giopanus remo pratama selaku komposer dan penari dari Sekadau.
Setelah tiga hari penuh kolaborasi di Sekadau, tim tari melanjutkan latihan mandiri mereka sebelum kembali bertemu dengan Budi dan Albertus Benny di Pontianak menjelang penampilan, untuk menyempurnakan setiap detail gerakan dan ekspresi.
Karya tari ini, yang diberi judul ‘Melopas’, memiliki latar belakang inspirasi yang mendalam, terinspirasi dari ritual Babukong, sebuah upacara kematian masyarakat Dayak Ma’ap di Desa Sebabas, Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

‘Melopas’ mengangkat makna melepas dengan perasaan duka dan ikhlas atas kepergian orang yang dicintai dan dihormati.
Ritual Babukong di masyarakat Dayak Ma’ap dipandang sebagai lambang penghormatan dan kasih sayang terhadap mereka yang telah berpulang.
Karya tari ini bukan hanya mengadaptasi elemen-elemen lokal dari Dayak Ma’ap, seperti koreografi, musik, kostum, dan adegan dalam ritual Babukong, namun juga mengembangkan elemen-elemen ini untuk menghadirkan pesan dan ekspresi yang lebih dalam.
Karya tari ini berhasil menyampaikan esensi dari ritual Babukong sambil menjaga nilai-nilai estetik seni pertunjukan.
Tim penari, pemusik dan koreografer mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaan mereka atas penghargaan yang diraih.
“Kami sangat terinspirasi oleh ritual Babukong dan kami berusaha dengan sepenuh hati untuk menghormatinya melalui karya tari ‘Melopas’ ini. Kami juga merasa beruntung memiliki tim penari yang penuh semangat dan berdedikasi,” ungkap Budi dan rekannya Albertus Benny.

