triggernetmedia.com – Gubernur Kalbar Sutarmidji menegaskan upaya percepatan penurunan stunting perlu dilakukan bersama-sama.
“Kuncinya, tiap daerah mesti memiliki data lengkap by name by address. Jika sudah memiliki data lengkap akan lebih mudah dalam upaya percepatan penurunan stunting ini,” katanya dalam rapat kerja daerah program pembangunan keluarga keendudukan dan keluarga berencana dan percepatan penurunan stunting di Kalimantan Barat, di Hotel Mercure Pontianak. Rabu (22/2/2023).
Gubernur Sutarmidji menyebut, jika data lengkap didapat hingga tataran desa. Maka persoalan ini akan mudah diselesaikan.
“Lebih dari 68 persen desa di Kalbar berada diwilayah perkebunan dan tambang. Sebagai langkah menurunkan stunting, kita akan meminta CSR setiap perusahaan perkebunan dan pertambangan untuk sumbangsihnya dalam penurunan stunting diwilayahnya masing-masing,” ujarnya.
“Jika satu perusahaan bisa membantu makanan bergizi sebanyak serratus KK setiap bulan. Saya rasa tak begitu besar jumlahnya jika disbanding dengan jumlah CSR yang harus mereka keluarkan,” timpalnya.
Masih menurutnya, jika di desa tersebut masih ditemukan stunting, maka akan berpengaruh pada perkebunan disana. Namun, langkah bantuan makanan bergizi pada keluarga stunting bisa dilakukan.
“Apalagi ketika melihat pasca bencana banjir yang terjadi di beberapa wilayah Kalbar tempo lalu. Disitu, pergerakan bantuan pasokan makanan buat warga tertimpa bencana mengalir deras. Dari informasi yang kita dapat, untuk bantuannya jenis telur bisa mencapai 150 ribu butir telur. Jika sekarang dalam satu bulan bisa membantu lima ribu telur, jika satu desa dua ratus keluarga. “Tinggal dibagi satu desa bisa dapat berapa banyak telur,” papar Midji.
“Seperti penanganan inflasi fokus pemerintah juga memberikan bantuan sembako pada masyarakat yang masuk dalam daftar PKH. Sebagain besar dari PKH pasti ada yang terpapar stunting. Artinya melalui sinergi program ini, upaya penurunan stunting juga dapat terbantu,” jelasnya lagi.
Kekinian, lanjut Midji, data SSGI 2022, Kalbar mampu menurunkan angka stunting sebesar dua persen.
“Ini merupakan kerja keras semua pihak. Sebab tidak mudah untuk menurunkan angka stunting hingga dua persen,” tandasnya.
Fokuskan program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting
Wakil Gubernur Kalbar, sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kalbar, Ria Norsan menyatakan, pihaknya di TPPS sudah turun langsung ke daerah-daerah untuk melakukan berbagai intervensi.
“Seperti di Sambas, jika data mereka sudah by name by addres, kita yakin dalam dua tahun stunting di Sambas bisa turun di bawah 20 persen,” ujar Norsan..
Mantan Bupati Mempawah dua periode ini menegaskan, Sambas bisa turun di bawah 20%, sangat berdasar. Karena Sambas merupakan penghasil beras.
“Begitu juga sektor perkebunan miliki potensi jeruk. Belum lagi sektor perkebunan hingga perikanannya. Sangat menunjang. Untuk infrasruktur dari satu desa ke desa lainnya juga sudah aman,” ujarnya.
“Desa di Sambas ini banyak yang terbaik. Bahkan ada desa di Sambas urutan 17 dari 74 ribuan desa se Indonesia. Nanti saya mau lihat data di desa ini apakah ada stuntingnya apa tidak. Kemarin saya ke sana, sepertinya tidak ada. Tapi akan saya pastikan nanti baru saya sampaikan ke publik,” timpalnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana BKKBN RI, Eny Gustina mengatakan, rapat kerja daerah program pembangunan keluarga kependudukan dan keluarga berencana dan percepatan penurunan stunting di Kalimantan Barat bisa menjadi wadah buat memperkuat segala lini program yang sudah direncanakan. Salah satu fokusnya adalah percepatan penurunan stunting.
“BKKBN mengapresiasi dan terima kasih pada Kalbar yang sudah mampu menurunkan angka stunting secara nasional dari 29,8 menjadi 27,8 persen. Tidak mudah menurunkan 2 persen. Bahkan ada dua kabupaten di Kalbar yang betul-betul luar biasa dalam menurunkan angka stunting. Yaitu Kubu Raya dan Sintang,” jelasnya.
Sebagai informasi, secara keseluruhan BKKBN masih mengejar target nasional di bawah 20%. Nasional juga belum bisa mencapai target itu, dimana sampai saat ini angka stunting nasional berada di 21,6%.
Eny Gustina berharap lewat rakerda semua pihak bisa memfokuskan program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting. Kemudian apa yang sudah dilakukan tinggal diperkuat.
“Saya baru mendapatkan pencerahan dari Bapak Gubernur, bahwa penanganan stunting ini tidak terlepas dari bagaimana upaya kita untuk meningkatkan status desa. Bagaimana desa-desa tertinggal harus dijadikan desa mandiri,” katanya.




