triggernetmedia.com – Seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang sedang dirawat dan disolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agoesdjam Ketapang dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (13/4/2020).
“Pasien pria berusia 44 tahun itu meninggal akibat cardiac arrest atau gagal jantung sesuai diagnosa penyebab kematian yang disampaikan oleh pihak Rumah Sakit,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, sekaligus Juru Bicara Posko Covid-19 Ketapang, Rustami, Selasa (14/4/2020).
Rustami menjelaskan, pasien tersebut meninggal pada Minggu (13/4/2020) malam sekitar pukul 21.57 WIB. Sebelumnya pasien dirawat dan diisolasi di RSUD Agoesdjam Ketapang pada Senin (6/4/2020) dan telah dilakukan pengambilan uji swab untuk memastikan apakah yang bersangkutan terpapar covid-19 atau bukan.
“Sampel sudah dikirim Selasa (7/4/2020) dan hasilnya belum keluar. Karena statusnya PDP maka pemakaman sesuai prosedur penanganan yang ada,” jelasnya.
“Sebelumnya kita juga telah melakukan rapid test terhadap keluarga pasien, hailnya, semua dinyatakan Non Reaktif,” ujar Rustami.
NS satu diantara kerabat pasien, meminta agar masyarakat tidak menstigma pasien lantaran pasein meninggal karena gagal jantung sesuai dengan surat keterangan dari pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agoesdjam Ketapang.
“Surat keterangan kematian almarhum sudah keluar, dan dinyatakan penyebab meninggalnya adalah gagal jantung,” katanya, Selasa (14/4/2020).
NS menyebut, almarhum sendiri memang mengidap penyakit gondok beracun atau teroit selama delapan tahun belakangan, bahkan sejak tiga bulan terakhir almarhum sudah beristirahat total akibat sakit yang dideritanya.
“Almarhum tidak ada riwayat pergi ke daerah terpapar Covid-19, bahkan sejak 3 bulan terakhir hanya istirahat dirumah akibat sakit gondok tersebut.
Hanya saja karena kondisi semakin parah dan ada sesak nafas kemudian almahum dianjurkan Dokter Sony yang merupakan dokter biasa yang mengobati almarhum untuk dirujuk di RS Agoesdjam dan pada Minggu (12/4/2020), kemudian sekitar pukul 21.15 almarhum meninggal dunia dirumah sakit,” jelasnya.
Beberapa hari sebelum meninggal, sambung NS, pihak keluarga sempat dipanggil dokter ahli jantung bahwa hal terburuk yang mungkin terjadi adalah gagal jantung akibat dari penyakit gondok beracun yang diderita almahum.
“Hanya saja karena kondisi di negara kita sedang ada Wabah seperti ini, kebetulan almarhum ada gejala sesak nafas kemudian pihak keluarga diminta mengikuti prosedur yang sudah ada termasuk pemakaman,” jelasnya lagi.
NS meminta masyarakat untuk tidak berpikir atau beropini sendiri mengingat almarhum memiliki riwayat sakit yang lain bahkan keluarga almarhum telah dilakukan Rapid Test, yang hasilnya semuanya menunjukkan Non Reaktif atau Negatif.
“Sedangkan untuk hasil tes swab almarhum masih menunggu hasil dari laboratorium jakarta yang sudah dikirim, sehingga masyarakat jangan sampai menduga-duga atau beropini atas sesuatu yang belum diketahui,” tandasnya.
Jhon I Ariz



