Trigger Netmedia
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
Trigger Netmedia
No Result
View All Result
Home Headline

Asa dan ironi warga dusun Sentalang mengenyam pendidikan dikampung luar

TriggerNetMedia by TriggerNetMedia
27 Januari 2019
in Headline, Kilas Kalbar, SingBeBas
0
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BENGKAYANG (triggernetmedia.com) – Demi pendidikan dan cita-cita 24 pelajar di Kabupaten Bengkayang ini terpaksa menempati delapan buah pondok tidak layak huni di Dusun Sempayuk, Desa Belimbing, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang.

Siswa siswi tersebut berasal dari dusun Sentalang, Desa Setia Budi, Kecamatan Bengkayang, Kabupaten Bengkayang, meliputi jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA.

Delapan buah pondok yang didirikan berderet tersebut menampung sebanyak 24 anak-anak usia sekolah itu. Dengan kamar berukuran 1,5 x 2 meter, yang idialny cukup menampung dua orang anak.

Di dalam kamar-kamar itulah letak dapur ditempatkan, ada kayu bakar, rak piring yang terbuat dari papan, dan kamar tidur, serta tempat menggantungkan pakaian, menyimpan tas, dan buku.

Jika diamati, pondok yang menampung 24 pelajar asal Kabupaten Bengkayang itu hanya terbuat dari bambu, berdindingkan papan, dan beratapkan daun sagu. Sedangkan lantainya beralaskan tanah. Ironis memang, apalagi saat ini kondisinya sudah ada beberapa pondasi yang nyaris roboh.

Menurut warga setempat, keberadaan pondok yang menampung para pelajar itu sebenarnya sudah berdiri sejak belasan tahun lalu.

Pondok itu diperkirakan bersiri diatas lahan seluas 35 meter hingga 40 meter persegi. Dipondok itu, cuma ada satu lampu penerangan saja, yang dialori dari aliran listrik tetangga. Penerang listrik tersebut hanya difungsikan saat belajar pada malam hari.

Pondok yang menampung 24 pelajar asal Kabupaten Bengkayang itu sebenarnya cukup strategis. Apalagi letaknya tidak jauh dari jalan raya nasional yang menghubungkan Kecamatan Bengkayang dan Kecamatan Jagoi Babang.

Namun, meskipun berada dipinggir jalan raya, pondok pelajar itu sepertinya belum dijamah para pemangku kebijakan daerah Kabupaten Bengkayang.

Kepala Dusun Sempayuk, Desa Belimbing Kecamatan Lumar, Iyun (42 ), menjelaskan, delapan pondok tersebut kini ditempati anak-anak dari Desa Sentalang. Mereka menempati pondok itu karena ingin sekolah.

“Sebab di desa mereka memang tidak ada lembaga pendidikan formal,” ungkap kadus Sempayuk, Itu, Minggu (27).

Anak anak sekolah yang berasal dari kampung Sentalang, beber Iyun, mereka terpaksa mengungsi ke kampung Sempayuk.

“Apabila ingin sekolah, mereka warga Sentalang memang ke Sempayuk ini. Untuk ke sekolah jarak tempuh selama dua jam perjalanan, dan biadanya melewati pemukiman. Hutan serta sungai,” cerita Iyun.

Ironis memang kondisinya. Iyun pun berharap ada perhatian serius dari pemerintah. Menurutnya dengan solusi membuat asrama ataupun jika kelak akses jalan dibuka dari Sempayuk menuju Sentalang, y setidaknya tentang waktu dan akses jalan tidak terlampau jauh, yang diperkirakan hanya 12 kilometer saja.

“Jika akses jalan dibuka, tentunya anak-anak kampung tetangga yang memiliki semangat yang tinggi dalam mengrnyam pendidikan itu tidak lagi tinggal di pondok. Selama ini kendalanya memang jalan, sehingga saat kesekolah tidak bisa ditempuh dengan cepat, karena harus melewati perkebunan dan jaraknya yang memang sangat jauh dari,” jelas Iyun.

Tidak hanya ke-24 anak-anak yang ingin meanjutkan sekolah mereka. Orangtua mereka bahkan juga ikut tinggal di pondok yang tidak layak huni itu.

Sementara, Franhina Lia (13), siswa kelas VI SDN 02 Sempayuk mengatakan ia bersama kakak kandungnya sudah menempati pondok tak layak huni itu sejak enam tahun lalu.

“Saya bersama dengan kakak dan saudara lainnya juga sudah tinggal disini selama 6 tahunan. Sejak kelas satu SD hingga sekarang, inilah” sebutnya.

Franhina Lia melanjutkan, selama di pondok itu, ia biasanya berbekal makanan, dan kebutuhan di asrama (Pondok) yang memang dibawakan oleh orangtuanya.

Namun, diakuinya terkadang ia juga harus pulang kampung untuk mengambil beras, sayuran serta keperluan lainnya.

Meski tergolong kurang mampu, para pelajar itu mengaku hingga kini belum pernah mendapatkan bantuan beasiswa dari pemerintah.

Padahal, diantara pelajar-pelajar itu, ada pula yang orangtuanya mendapatkan program Program Keluarga Harapan (PKH).

Pewarta : Doe
Editor : Dhesta

About Author

TriggerNetMedia

See author's posts

Previous Post

DPA KKR 2019 senilai Rp. 1,1 triliun

Next Post

Rusman Ali dorong tingkatkan daya saing daerah dengan 4 indikator penting

TriggerNetMedia

TriggerNetMedia

Next Post

Rusman Ali dorong tingkatkan daya saing daerah dengan 4 indikator penting

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

16 Juli 2025
Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

17 November 2021
Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

18 Juli 2025
Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

26 November 2025
Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

0
2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

0
14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

0
Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

0
QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

16 Agustus 2026
BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

16 Agustus 2026
Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

16 Agustus 2026
Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

16 Agustus 2026

Recent News

QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

16 Agustus 2026
BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

16 Agustus 2026
Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

16 Agustus 2026
Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

16 Agustus 2026
  • Kode Etik
  • Kode Prilaku Perusahaan Pers
  • Tentang Kami
  • Redaksi

© 2026 triggernetmedia development

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan

© 2026 triggernetmedia development