triggernetmedia.com – Distribusi biodiesel di Indonesia tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan bakar nabati. Sebagai negara kepulauan, kelancaran pasokan juga sangat dipengaruhi kesiapan logistik maritim yang menghubungkan kapal, terminal, depot, hingga titik penerima di berbagai wilayah.
Direktur Pemasaran PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), Albertus, mengatakan ketersediaan produk harus diikuti dengan kemampuan menyalurkan biodiesel ke wilayah yang membutuhkan.
“Ketika produk sudah tersedia, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memastikan produk tersebut dapat sampai ke wilayah yang membutuhkannya. Di sinilah logistik maritim menjadi sangat penting,” ujar Albertus dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026.
Menurutnya, distribusi energi membutuhkan konektivitas maritim yang luas. Dalam ekosistem Integrated Marine Logistics Pertamina Group, PTK menjalankan berbagai aktivitas untuk menghubungkan kapal dengan terminal.
Aktivitas tersebut mencakup pilotage, bantuan tugboat, mooring and unmooring, hingga koordinasi dengan fasilitas pelabuhan. Seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk memastikan distribusi berlangsung aman, efisien, dan konsisten.
Peran PTK dalam Distribusi Biodiesel
PTK telah terlibat dalam aspek maritim distribusi biodiesel sejak awal implementasi program B2.5 pada 2008. Peran tersebut kemudian berkembang pada 2019 melalui pengelolaan FAME Floating Storage dan Ship-to-Ship (STS) Operation di Balikpapan.
Pengoperasian fasilitas tersebut dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan distribusi biodiesel sekaligus persiapan menuju implementasi B30.
Sepanjang periode 2019 hingga 2026 year-to-date, operasi tersebut mencatat sekitar 1.192 kunjungan kapal pemasok dan 3.829 kunjungan kapal pengangkut.
Dalam skema tersebut, PTK menangani pengelolaan Floating Storage dan operasi STS yang meliputi koordinasi maritim, bantuan tugboat, penempatan kapal, mooring, transfer kargo, monitoring, hingga aspek health, safety, security and environment (HSSE).
Distribusi Biodiesel Butuh Kolaborasi
Albertus menegaskan distribusi biodiesel tidak dapat ditangani oleh satu perusahaan saja. Rantai pasok membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator hingga pemangku kepentingan lainnya.
“Kami memahami bahwa tidak ada satu perusahaan yang dapat mengelola seluruh ekosistem biodiesel sendirian. Dibutuhkan kerja sama antara produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator, dan berbagai stakeholder lainnya,” jelasnya.
Dalam acara yang sama, PMSol hadir bersama PTK Group melalui booth dan berinteraksi dengan berbagai pelaku industri biodiesel. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi seiring berkembangnya ekosistem biodiesel nasional.
PTK juga menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan anggota Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan pemangku kepentingan lainnya untuk memahami kebutuhan industri sekaligus mencari solusi maritim yang sesuai.
“Tujuan akhirnya adalah memastikan biodiesel Indonesia dapat terus bergerak dengan aman, andal, dan berkelanjutan,” pungkas Albertus.










