triggernetmedia.com – Masyarakat diingatkan untuk tidak menganggap nyeri sebagai keluhan biasa. Rasa sakit yang muncul pada tubuh dapat menjadi sinyal adanya gangguan tertentu sehingga penting untuk mengenali jenis dan penyebabnya sebelum menentukan penanganan.
Pesan tersebut disampaikan dokter spesialis saraf RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, dr. Achmad Faqih, Sp.N. FMIN, dalam edukasi kesehatan bertema “Yuk, Kenali Jenis-Jenis Nyeri”, Kamis (10/9/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Peduli Nyeri di RSUD SSMA.
Dr. Faqih menjelaskan nyeri merupakan mekanisme tubuh untuk memberi peringatan ketika terjadi gangguan atau kondisi yang berpotensi membahayakan. Sinyal tersebut diteruskan ke otak agar tubuh dapat memberikan respons perlindungan.
“Nyeri merupakan salah satu tanda vital kelima. Selain tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu, nyeri juga perlu diperhatikan,” jelas dr. Faqih.
Menurutnya, mengenali karakteristik nyeri menjadi penting karena setiap jenis nyeri membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda. Kesalahan mengenali sumber nyeri berisiko membuat seseorang memilih pengobatan yang tidak sesuai.
Secara umum, nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri radang dan nyeri saraf. Nyeri radang berkaitan dengan kerusakan jaringan non-saraf, seperti otot, tulang, sendi, maupun jaringan lain.
Keluhan nyeri radang umumnya berupa pegal, kaku, atau berdenyut dan cenderung terasa pada area tertentu. Nyeri pada otot dan sendi maupun keluhan setelah mengalami benturan dapat termasuk dalam kelompok ini.
Berbeda dengan nyeri radang, nyeri saraf muncul akibat gangguan atau kerusakan pada sistem saraf, baik saraf pusat maupun saraf tepi. Karakternya juga lebih khas, seperti rasa panas terbakar, tersengat listrik, tertusuk, kesemutan, kebas, atau mati rasa.
Nyeri saraf juga dapat menjalar mengikuti jalur saraf. Misalnya, nyeri dari pinggang yang menjalar hingga telapak kaki atau keluhan dari leher yang terasa sampai ke tangan.
“Tidak semua nyeri pinggang disebabkan oleh saraf kejepit. Kalau nyerinya tidak menjalar, bisa saja berkaitan dengan sendi, otot, atau struktur lain di sekitar tulang belakang,” ujarnya.
Dr. Faqih menyebut sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko gangguan saraf, antara lain diabetes yang tidak terkontrol, saraf terjepit, kurang bergerak atau terlalu lama duduk, aktivitas berulang, kehamilan, kelebihan berat badan, serta kondisi medis tertentu.
Khusus bagi penyandang diabetes, pengendalian kadar gula darah menjadi penting untuk mengurangi risiko komplikasi saraf. Aktivitas fisik rutin dan menghindari gaya hidup sedentari juga dianjurkan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memilih obat pereda nyeri. Obat yang lazim digunakan untuk nyeri akibat peradangan belum tentu memberikan manfaat yang sama pada nyeri saraf.
“Penanganan harus disesuaikan dengan jenis dan penyebab nyerinya,” katanya.
Penanganan nyeri dapat dilakukan bertahap sesuai hasil evaluasi dokter. Selain obat, terapi dapat mencakup fisioterapi atau tindakan lain apabila memang dibutuhkan.
Perbaikan postur tubuh, olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, serta berhenti merokok juga menjadi bagian dari upaya mencegah gangguan nyeri dan menjaga fungsi tubuh.
Masyarakat diminta berkonsultasi dengan dokter apabila nyeri tidak membaik setelah istirahat atau penanganan awal. Pemeriksaan juga diperlukan ketika nyeri tiba-tiba menjadi berat, disertai sensasi tersetrum, panas terbakar, kebas atau mati rasa, maupun ketika keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas tidur.
Dr. Faqih menegaskan nyeri merupakan sinyal yang perlu diperhatikan, bukan sekadar rasa sakit yang harus ditahan. Semakin cepat penyebab dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang sesuai.
Dengan mengenali karakteristik nyeri sejak awal dan menghindari pengobatan secara sembarangan, masyarakat diharapkan dapat menjaga kualitas hidup serta mencegah gangguan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.










