triggernetmedia.com – Harga minyak mentah dunia kembali menembus level US$90 per barel setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak, kawasan strategis Selat Hormuz.
Kenaikan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama kemungkinan terganggunya jalur distribusi energi global.
Mengutip Reuters, hingga pukul 22.02 GMT, harga minyak Brent berjangka naik US$2,22 atau 2,52 persen menjadi US$90,32 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,01 atau 2,41 persen ke level US$85,41 per barel.
Lonjakan tersebut menunjukkan pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Investor kini memperhitungkan kemungkinan konflik antara Washington dan Teheran berkembang lebih luas.
Selat Hormuz Jadi Perhatian
Pulau Larak memiliki posisi strategis karena berada di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Selat tersebut menjadi jalur utama lalu lintas kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu berpotensi memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia dan mendorong harga minyak semakin tinggi.
Serangan tersebut juga menjadi aksi militer Amerika Serikat pertama yang diketahui menghantam wilayah Iran sejak akhir Juli. Perkembangan ini membuat pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan eskalasi konflik kedua negara.
Investor kini menunggu perkembangan selanjutnya untuk melihat apakah ketegangan tersebut hanya berlangsung sementara atau justru berkembang menjadi konflik yang berdampak lebih panjang terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Jika gangguan terhadap distribusi energi benar-benar terjadi, pasar minyak global berpotensi menghadapi tekanan pasokan yang lebih besar. Kondisi tersebut dapat kembali meningkatkan volatilitas harga minyak dalam perdagangan berikutnya.










