triggernetmedia.com – Sebuah diskusi bedah buku yang mengulas karya-karya terkenal penulis novel Indonesia, Habiburrahman El Shirazy, telah digelar di Institut für Afrika und Asienwissenschaften (Institut Studi Asia dan Afrika) di Humboldt Universität.
Diskusi ini diselenggarakan oleh Esie Hanstein, seorang dosen Bahasa Indonesia yang mengajar di dua universitas ternama di Jerman, Humboldt University dan Leipzig University.
Diskusi berjudul ‘Reading and Discussion: Love and Islam in The Work of Habiburrahman’ dihadiri oleh mahasiswa dari kedua universitas tersebut.
“Bedah buku juga adalah salah satu bentuk untuk lebih mengenalkan Indonesia dan mencintai bahasanya,” katanya, Senin (4/12).
Pada acara tersebut, Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy, turut hadir sebagai pembicara utama. Esie Hanstein menjelaskan bahwa diskusi dimulai dengan pembacaan penggalan dari novel ‘Ketika Cinta Bertasbih’ yang dilakukan oleh Kang Abik.
Kemudian, para mahasiswa menerjemahkan dan membacakan bagian tersebut ke dalam Bahasa Jerman, yang kemudian dipertunjukkan melalui tayangan video atau film.
Menurut Esie, Kang Abik sangat terkesan dengan ide dan konsep bedah buku ini, yang merupakan pengalaman baru baginya sebagai penulis terkenal.
Dia juga menegaskan bahwa kegiatan seperti ini merupakan cara yang efektif dalam memperkenalkan bahasa, budaya, dan tradisi Indonesia kepada para mahasiswa internasional di Jerman.
“Bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X juga sudah pernah berdiskusi bersama para mahasiswanya sewaktu di Universitas Leipzig dulu,” pungkasnya.
Esie Hanstein, selain sebagai dosen Bahasa Indonesia, juga aktif sebagai Anggota Pendiri dan Staf Ahli PSC, sebuah program dari NGO Jerman yang fokus pada membantu anak-anak yatim piatu, terutama dalam kesehatan gigi.
Ia juga menjadi Duta 17 perkembangan berkelanjutan dari 17 Global Goals Project yang berkolaborasi dengan PBB.
Diskusi bedah buku ini bukan hanya melibatkan Habiburrahman El Shirazy sebagai pembicara, tetapi juga mengundang beberapa tokoh dan profesor terkemuka seperti Prof Claudia Derichs dari Transregional South East Asian Studies dan Dr Saskia Schäfer dari bidang Secularity, Islam, and Democracy in Indonesia and Turkey.










